Pada Berobat ke Negeri Jiran, Indonesia Rugi Rp160 T Kata Wamenkes

CNN Indonesia
Senin, 02 Feb 2026 17:45 WIB
Menurut Wamenkes Dante Saksono Harbuwono, Indonesia alami kerugian Rp160 T karena warga pada berobat ke luar negeri.
Menurut Wamenkes Dante Saksono Harbuwono, Indonesia alami kerugian Rp160 T karena warga pada berobat ke luar negeri. (CNN Indonesia/Khaira Ummah Junaedi Putri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan Indonesia berpotensi kehilangan ratusan triliun devisa gara-gara banyak yang memilih berobat ke luar negeri, terutama negara tetangga.

"Rp160 triliun itu devisa negara mengalir ke Penang, Singapura, Thailand, dan Korea," ujar Dante di Jakarta Utara, Selasa (27/1), seperti dilansir dari detikhealth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dante pun membeberkan alasan mengapa masih banyak pasien domestik yang memilih berobat ke luar negeri. Salah satunya, hospitality rumah sakit dalam negeri yang masih buruk.

"Sebenarnya kualitas dokter di Indonesia tidak kalah, tapi yang kalah adalah hospitality-nya. Keramah-tamahannya dalam melayani," kata Dante lagi.

Dante pun berpesan kepada seluruh rumah sakit di Indonesia agar tidak membeda-bedakan pasien berdasarkan 'kelas'-nya. Kualitas pelayanan harus sama untuk semua pasien.

Di lain pihak, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mengakui pelayanan di sektor rumah sakit, khususnya di fasilitas kesehatan milik pemerintah, masih kurang.

"Saya sampaikan ke Kepala Dinas yang harus diubah, yang paling utama, seperti yang dikatakan Prof Dante tadi, dalam semua tingkatan termasuk BPJS maupun non-BPJS, hospitality," tutur Pramono.

Indonesia memang pasar utama Malaysia

Berdasarkan laporan tematik dari Malaysian Industrial Development Finance Berhad (MIDF) pada Agustus 2025, salah satu daya tarik Malaysia sebagai destinasi wisata medis, yakni karena harga yang terjangkau.

Menurut MIDF, seperti dikutip dari Free Malaysia Today, biaya perawatan di Malaysia bisa lebih murah 30 persen hingga 50 persen ketimbang negara-negara Barat.

Ditambah dengan hasil klinis yang kuat dan waktu tunggu lebih singkat, Malaysia jadi salah satu destinasi paling kompetitif di Asia untuk operasi besar, diagnostik, hingga perawatan khusus.

Adapun menurut laporan MIDF, pasien dari Indonesia merupakan kontributor terbesar dengan porsi mencapai 65 persen.

Menurut Presiden Asosiasi Rumah Sakit Swasta Malaysia, Kuljit Singh, tingginya pasien dari Indonesia tak lepas dari kedekatan budaya kedua negara. Mulai dari bahasa yang lebih familier hingga penerapan aspek halal karena sama-sama negara mayoritas Muslim.

Kuljit mengatakan, pasien Muslim dari Indonesia dan Timur Tengah sering menyebutkan ketersediaan fasilitas ibadah, dokter perempuan, dan layanan reproduksi sebagai pertimbangan utama memilih rumah sakit di Malaysia.

(rti)


[Gambas:Video CNN]