Liila di Front Row, Boneka Pencetak Sejarah di Paris Couture Week
Ada pemandangan menggemaskan di momen peragaan Yanina Couture untuk musim panas 2026 di Paris Couture Week, Selasa (27/1). Sorotan tak cuma tertuju pada deretan gaun couture, tapi juga kehadiran boneka yang duduk tenang di front row.
Liila, sebuah designer doll, untuk pertama kalinya dalam sejarah diundang secara resmi ke peragaan Paris Couture Week. Boneka ini bahkan hadir lengkap dengan busana couture khusus.
Lihat Juga :![]() Laporan dari Paris Jonathan Anderson 'Menyelamatkan' Couture Lewat Koleksi Teranyar Dior |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Liila bukan sekadar aksesori visual atau gimmick media sosial. Dalam konteks peragaan Yanina Couture, ia tampil sebagai perpanjangan bahasa mode itu sendiri.
Mengenakan gaun Yanina Couture berwarna merah dan merah muda dengan detail floral, Liila menghadirkan dialog menarik antara ketelitian artisan couture dan budaya pop kontemporer. Detail bunganya bahkan mengingatkan pada estetika floral yang sebelumnya terlihat pada perayaan ulang tahun aktris Tiongkok Zhao Lusi, menciptakan resonansi lintas budaya yang unik.
Setelah kehadiran Labubu yang menjadi sebuah fenomena tersendiri, para desainer kini mulai merambah ke luar dunia fesyen. Dan, ketika couture bertemu dengan designer toys, batas-batas mode bergeser.
Kehadiran Liila menandai bagaimana couture hari ini tidak lagi tentang relevansi pakaian kelas atas, tetapi juga kepada simbol, narasi, dan objek budaya yang hidup di luar sistem tradisional fesyen.
Di tengah biaya produksi peragaan Paris yang semakin mahal dan tekanan ekonomi pada rumah mode independen, kolaborasi semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk simbiosis: dukungan finansial sekaligus perluasan audiens. Tanpa perlu menyebutkannya secara eksplisit sebagai sponsor, Liila berfungsi sebagai product placement yang cerdas.
Posisi front row atau barisan depan dalam sebuah peragaan busana bukanlah penempatan sembarangan. Kursi-kursi ini diperuntukkan bagi tamu dengan status tertinggi dalam ekosistem mode: klien VIC (very important clients) yang menopang bisnis rumah mode, selebriti global, brand ambassador, serta media internasional berpengaruh.
Dalam banyak kasus, penempatan duduk bahkan menjadi indikator simbolik tentang seberapa 'penting' seorang tamu bagi sebuah jenama. Karena itu, kehadiran Liila di front row Yanina Couture, yang sontak memancing bisik-bisik penasaran, bahkan nada iri dari sebagian tamu lain, menjadi peristiwa yang tidak lazim sekaligus signifikan.
Sebuah boneka desainer, tanpa status selebriti atau daya beli dalam pengertian konvensional, justru menempati ruang prestisius yang biasanya sangat eksklusif. Di titik inilah Liila tidak hanya hadir sebagai objek lucu, tetapi menjadi bagian dari strategi visual.
Peragaan Yanina Couture di Paris Couture Week, Selasa (27/1). (CNN Indonesia/Fandi Stuerz) |
Sementara itu di runway, sang desainer Yulia Yanina membentangkan kisah transformasi yang terinspirasi dari perjalanan awal Gabrielle Chanel-bukan sebagai ikon beku sejarah mode, melainkan sebagai perempuan muda yang ditempa oleh kesunyian panti asuhan Aubazine.
Koleksi ini tidak berusaha merekonstruksi revolusi gaya Chanel, melainkan menelusuri lahirnya kekuatan batin, kebebasan, dan keanggunan yang tumbuh dari proses bertahan hidup di panti.
Siluet pembuka tampil dalam hitam dan putih yang estetik, dengan garis-garis bersih yang mencerminkan disiplin dan kesunyian awal perjalanan Gabrielle.
Kemudian, palet warna berkembang menuju ivory, beige, emas, dan nuansa cahaya, yang menjadi simbol kesadaran diri dan feminitas yang matang.
Pengaruh budaya Rusia, yang historisnya dekat dengan Gabrielle Chanel melalui Diaghilev dan Ballets Russes, muncul secara subtil melalui motif dekoratif dan ornamen.
Simbol utama koleksi ini adalah bulir gandum, talisman kekuatan, keberuntungan, dan pertumbuhan. Dibuat hampir menyerupai bentuk aslinya dalam emas, motif gandum merambat di gaun-gaun sebagai metafora perempuan yang menciptakan dunianya sendiri.
Keunggulan teknik tetap menjadi DNA Yanina, seperti bordir tangan tingkat tinggi, penggunaan raffia alami untuk pertama kalinya, teknik couching, hingga eksplorasi macramé sifon dan bordir Rusia tradisional seperti verhoshvy dan kosicka.
Paralel antara Gabrielle Chanel dan Yulia Yanina terasa organik. Keduanya membangun rumah mode tanpa warisan aristokrat, berangkat dari visi personal dan keyakinan pada jalannya sendiri.
Dalam konteks ini, Liila--sebuah figur kecil yang duduk di front row--menjadi simbol kontemporer dari narasi yang sama, bahwa kekuatan kreatif hari ini dapat lahir dari persimpangan yang tak terduga, di mana couture, budaya pop, dan strategi pemasaran yang tepat seirama dengan zeitgeist.
Di Paris Couture Week musim ini, sejarah kecil pun tercipta.
(asr/asr)[Gambas:Video CNN]

Peragaan Yanina Couture di Paris Couture Week, Selasa (27/1). (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)