Sulit Tidur karena Pasangan Mendengkur? Ini 6 Cara Mengatasinya
Tidur di malam hari bisa menjadi tantangan tersendiri ketika harus berbagi ranjang dengan pasangan yang mendengkur.
Suara dengkuran yang muncul berulang kali, bahkan terdengar keras, kerap membuat mata sulit terpejam dan tidur jadi tidak berkualitas.
Masalah ini bukan sekadar soal rasa terganggu. Tidur bersama pasangan yang mendengkur dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit fokus, hingga memicu perubahan suasana hati yang berujung pada konflik dalam hubungan.
Melansir dari Healthline, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan saat harus tidur di samping pasangan yang mendengkur.
1. Alihkan perhatian
Meskipun terdengar sulit, mengalihkan fokus dari suara dengkuran bisa membantu tubuh lebih rileks. Beberapa orang berhasil tertidur dengan cara meditasi ringan, latihan pernapasan, atau mendengarkan podcast dengan volume rendah.
Teknik pernapasan teratur dapat membantu menenangkan pikiran, sehingga suara dengkuran tidak lagi menjadi fokus utama.
2. Gunakan penutup telinga
Penutup telinga menjadi solusi paling sederhana dan cepat. Alat ini membantu meredam suara dengkuran agar tidak terlalu mengganggu.
Ada berbagai jenis penutup telinga yang bisa dipilih, mulai dari busa lembut yang mudah ditemukan di apotek hingga earplug silikon peredam bising. Jika tidak nyaman memasukkan benda ke telinga, headphone peredam suara juga bisa menjadi alternatif.
3. Dengarkan musik atau white noise
White noise menghasilkan suara stabil dan konsisten yang dapat membantu menutupi suara dengkuran. Beberapa orang merasa lebih mudah tertidur dengan suara hujan, ombak laut, atau aliran air.
Jika tidak memiliki white noise, aplikasi di ponsel atau playlist relaksasi juga bisa digunakan sebagai pengganti.
4. Ubah posisi tidur pasangan
Pada sebagian orang, mendengkur menjadi lebih parah saat tidur telentang. Mengubah posisi tidur pasangan ke posisi miring sering kali membantu mengurangi dengkuran.
Ada beberapa cara yang bisa dicoba, seperti menggunakan bantal khusus anti-dengkuran atau alat bantu posisi tidur. Cara sederhana seperti menyelipkan benda empuk di punggung juga kadang digunakan agar pasangan tidak kembali telentang saat tidur.
5. Ajak pasangan memeriksakan diri
Jika dengkuran berlangsung keras, sering, dan tidak membaik, sebaiknya pasangan didorong untuk berkonsultasi ke dokter. Pemeriksaan tidur dapat membantu mengetahui penyebab dengkuran, termasuk kemungkinan gangguan seperti sleep apnea.
Jika ditemukan gangguan tidur, dokter dapat merekomendasikan terapi tertentu, mulai dari alat bantu pernapasan hingga penggunaan alat oral khusus.
Penanganan yang tepat tidak hanya membantu mengurangi dengkuran, tetapi juga meningkatkan kualitas tidur secara keseluruhan.
6. Tidur di ruangan berbeda bila perlu
Jika semua cara tidak berhasil dan tubuh sudah sangat lelah, tidur di ruangan terpisah bisa menjadi solusi sementara. Langkah ini tidak harus dilakukan setiap malam, tetapi bisa membantu memulihkan energi saat kondisi tubuh benar-benar membutuhkan istirahat.
Komunikasikan alasan ini dengan pasangan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Justru, langkah ini bisa mendorong pasangan untuk lebih serius mencari solusi bersama.
Dampak tidur dengan pasangan yang mendengkur
Tidur yang terganggu secara terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan, kurang tidur berhubungan dengan beberapa respon tubuh seperti berikut:
- peningkatan risiko tekanan darah tinggi,
- diabetes tipe 2,
- penyakit jantung,
- stroke.
Sebuah penelitian tahun 2023 juga menemukan bahwa gangguan tidur dapat mempercepat munculnya penyakit kardiovaskular, baik pada pria maupun perempuan.
Oleh karena itu, mengatasi dengkuran bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan jangka panjang.
(nga/asr)