BGN Dorong Perubahan Pola Makan Anak Lewat Program Makanan Bergizi

CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 14:15 WIB
Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya mengatakan, pemerintah kini memberikan perhatian serius pada pemenuhan gizi kelompok rentan, salah satunya anak.
Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya mengatakan, pemerintah kini memberikan perhatian serius pada pemenuhan gizi kelompok rentan, salah satunya anak. (CNN Indonesia/Jurnalia Sibunga)
Jakarta, CNN Indonesia --

Program makan bergizi yang dijalankan pemerintah tidak sekadar soal pembagian makanan gratis, tetapi bagian dari upaya besar membangun kesadaran gizi masyarakat sejak usia dini.

"Dulu kita makan, ya, makan saja. Karbohidrat ditumpuk dengan karbohidrat. Sekarang mindset-nya sudah berubah, makan itu harus ada karbohidrat, protein, serat, dan vitamin," ujar Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya dalam talkshow 'Gizi Anak untuk Masa Depan' di CNN Indonesia Wellnest Festival 2026, Jakarta, Kamis (29/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, perubahan cara pandang ini menjadi penting karena pola makan berperan besar dalam menentukan kualitas generasi mendatang.

Pemerintah kini memberi perhatian serius pada pemenuhan gizi kelompok rentan meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga peserta didik dari tingkat dasar sampai menengah.

"Jadi oleh itu pemerintah melakukan program makan bergizi ini adalah fokusnya bagaimana salah satunya mengatasi stunting ini," kata Sony.

Fokus tersebut dinilai krusial untuk mencegah berbagai masalah gizi, termasuk stunting.

"Fokusnya kepada bukan lagi menurunkan stunting, tapi menghilangkan stunting tentu secara bertahap," kata Sony.

Sony menyebut, stunting bukan semata-mata persoalan keturunan, melainkan kondisi yang bisa dicegah. Karena itu, pemerintah menargetkan bukan hanya menurunkan, tetapi secara bertahap menghilangkan stunting di Indonesia.

"Stunting itu bisa dicegah. Kuncinya ada pada asupan gizi yang seimbang dan berkelanjutan," katanya.

Dalam pelaksanaannya, BGN tidak menerapkan menu nasional yang seragam. Setiap daerah diberi keleluasaan menyesuaikan menu dengan bahan pangan lokal dan kebiasaan makan setempat. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan mudah diterima anak-anak.

BGN juga menerapkan sistem evaluasi dari sisa makanan di sekolah. Menu yang kurang diminati akan dicatat dan menjadi bahan perbaikan untuk penyusunan menu berikutnya, tanpa memaksakan makanan tertentu kepada anak.

Selain gizi, Sony menyoroti aspek pengelolaan sisa makanan. Menurutnya, sisa makanan dari dapur penyedia gizi kini dimanfaatkan kembali, mulai dari pakan ternak hingga bahan pupuk organik, sehingga tidak menambah masalah sampah.

Ia berharap, program makan bergizi dapat menjadi penggerak perubahan, tidak hanya bagi kesehatan anak-anak, tetapi juga bagi ekonomi masyarakat lokal melalui pemanfaatan bahan pangan daerah.

(nga/asr)