Ini Alasan Tak Perlu Turunkan Hormon Kortisol untuk Atasi Stres
Dikenal sebagai hormon stres, selama ini kadar kortisol selalu diupayakan untuk ditekan. Tak heran jika banyak orang yang mencari cara menurunkan hormon kortisol.
Ternyata, ini cara yang salah dalam mengelola stres. Kortisol tetap dibutuhkan untuk fungsi lain, tak sekadar mengatur respons tubuh terhadap stres.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa kita tak perlu menurunkan hormon kortisol?
Sejumlah profesional medis menolak gagasan mengenai pengendalian kortisol. Di satu sisi, pengendalian sangat tak mungkin dilakukan. Di sisi lain, masyarakat sebaiknya tak melabeli hormon ini sebagai musuh.
Berikut ini sejumlah hal yang perlu Anda ketahui terkait kortisol.
1. Kortisol membuat Anda bertahan hidup
Hormon kortisol dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Berasal dari kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal, hormon ini berperan penting bagi banyak fungsi tubuh.
Mengutip Cleveland Clinic, hormon kortisol berperan mengatur tubuh menggunakan glukosa untuk energi, mengurangi peradangan, mengatur tekanan darah, mengontrol siklus tubuh, dan masih banyak lainnya.
Adapun kadar kortisol berfluktuasi sepanjang hari, meningkat saat Anda bangun di pagi hari dan menurun sebelum tidur di malam hari. Menurut ahli endokrinologi dari Universitas Johns Hopkins, Roberto Salvatori, kortisol juga meningkat saat Anda sakit atau kondisi stres lainnya.
"Kadar kortisol kita diatur setiap menit," ujar Salvatori, melansir The Independent UK.
2. Gangguan kortisol relatif jarang terjadi
Orang yang mengalami gangguan akibat hormon kortisol sangat jarang terjadi. Jika kadarnya rendah secara kronis, justru akan menyebabkan insufisiensi adrenal. Ini termasuk penyakit Addison, yakni ketika sistem imun menyerang kelenjar adrenal.
Adapun kadar kortisol yang terlalu tinggi dialami oleh penderita sindrom Cushing. Salah satu penyebabnya, yakni tumor yang muncul di kelenjar adrenal atau hipofisis.
3. Tak perlu lakukan tes kortisol
Gejala kadar kortisol tinggi atau rendah sangat beragam dapat tumpang tindih dengan tanda masalah kesehatan lain. Jadi, tidak melulu terkait dengan kondisi stres.
Kadar hormon kortisol dapat diukur melalui air liur, darah, atau urine. Namun diagnosis membutuhkan waktu dan pemahaman tentang kesehatan pasien secara keseluruhan.
"Ada banyak nuansa dalam menafsirkan kortisol dan itulah yang membuat saya sedikit khawatir tentang pasien yang melakukan tes kortisol sendiri tanpa pengawasan dokter," kata ahli endokrinologi di UTHealth Houston, Katie Guttenberg.
Menurutnya, tes darah kortisol yang dilakukan sekali saja tak akan memberikan informasi berguna. Ini justru bisa menyebabkan stres dan tindak lanjut medis yang tak perlu.
Misalnya, perempuan yang menggunakan pil KB akan memiliki hasil tes darah kortisol yang tinggi secara tidak akurat. Ini kaitannya dengan cara kerja pil KB dalam tubuh.
Mengelola stres tetap diperlukan
Orang yang mengidap penyakit tertentu, cenderung memiliki kadar hormon kortisol yang tidak stabil. Misalnya, mengobati kadar kortisol yang tinggi bisa membantu penderita diabetes yang mengonsumsi banyak obat untuk mengontrol kadar gula darah.
Bagi yang sehat, ketimbang berfokus menurunkan hormon kortisol, lebih baik kembali ke dasar-dasar manajemen stres. Misalnya, makan dengan baik, tidur yang cukup, berolahraga, atau menjalani terapi.
Anda justru patut waspada dengan suplemen atau vitamin yang mengeklaim dapat menurunkan hormon kortisol. Para ahli endokrinologi mengatakan, tidak ada pengobatan tanpa resep yang terbukti efektif terhadap pengendalian kortisol.
Hanya penderita kondisi tertentu saja, seperti sindrom Cushing, yang bisa mendapatkan obat dari resep dokter. Itu pun dosis obat harus diatur dengan hati-hati.
(rti) Add
as a preferred source on Google
