Pemerintah Singapura Ingin Warung Nasi Padang Tertua Kembali Buka
Baru-baru ini warung nasi Padang di Singapura, Warong Nasi Pariaman, menyatakan tutup pada Sabtu (31/1) setelah beroperasi selama 78 tahun. Hal ini jadi perhatian Pemerintah Singapura yang kemudian menawarkan restoran dibuka kembali.
Hal ini diungkapkan oleh Syed Harun Alhabsyi, Sekretaris Parlemen Senior untuk Pembangunan Nasional Singapura. Ia mengatakan, berbagai lembaga negara sedang berkontak erat dengan Warong Nasi Pariaman untuk membahas bagaimana bisnis tersebut dapat terus beroperasi jika pemilik menginginkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syed Harun juga menegaskan, tutupnya Warong Nasi Pariaman bukan karena harga sewa yang tinggi.
"Dilaporkan di media bahwa seorang perwakilan dari keluarga baru-baru ini mengklarifikasi bahwa penutupan tersebut tidak terkait dengan masalah sewa, dan kita tidak boleh salah menyimpulkan bahwa ini disebabkan oleh tingginya biaya sewa," tutur Syed Harun pada Selasa (3/2) di hadapan parlemen, melansir Channel News Asia.
Pertama kali didirikan pada 1948 di Jalan Kandahar oleh Haji Isrin dari Kota Pariaman, Sumatra Barat, Warong Nasi Pariaman menjadi salah satu ikon di kawasan Kampong Glam. Tempat ini menjadi warung nasi padang tertua di Singapura.
Karena nilai historisnya, Pemerintah Singapura menempatkan warung nasi Padang ini sebagai salah satu bisnis warisan budaya. Warung ini bahkan sudah masuk di bawah Skema Bisnis Warisan SG oleh National Heritage Board (NHB) atau Dewan Warisan Nasional.
Adapun NHB merupakan gugus tugas antarlembaga yang mendukung bisnis warisan budaya, kegiatan tradisional, dan kehidupan budaya. Gugus tugas ini juga mendukung pemasaran dan konsultasi bisnis warisan budaya.
Saat ini, terdapat 42 bisnis yang sudah ditetapkan dalam Skema Bisnis Warisan SG. Sebanyak 21 di antaranya berada di Kampong Glam dan Chinatown.
Soal kenaikan harga sewa
Pada Sabtu (31/1), Urban Redevelopment Authority (URA) atau Otoritas Pengembangan Perkotaan di Singapura menyatakan, harga sewa rata-rata naik dalam dua tahun terakhir. Kenaikan tersebut sebesar 2 persen per tahun di Kampong Glam, 2,5 persen di Little India, dan 1 persen di Chinatown.
Ketika menanggapi pertanyaan anggota parlemen Denise Phua terkait kenaikan harga sewa, Syed Harun mengatakan kenaikan di Kampong Glam tergolong moderat. Kenaikan tersebut di bawah pertumbuhan PDB dan sebanding dengan ruang ritel konvensional di area pusat kota.
"Kami mencatat bahwa harga sewa mungkin tidak seragam di seluruh distrik... distrik Kampong Glam sebenarnya cukup besar," ujar Syed Harun.
Sebagian kecil dari perjanjian sewa yang ditandatangani antara 2023 dan 2025 memang mengalami kenaikan sewa hingga 25 persen atau lebih. Bali Lane dan Haji Lane di Kampong Glam merupakan beberapa di antaranya yang merasakan kenaikan tersebut.
Syed Harun menegaskan, ini merupakan kasus minor yang tidak mewakili situasi harga sewa di Kampong Glam. Kenaikan 25 persen ini merupakan efek dari perjanjian sewa yang sebelumnya diteken dengan harga di bawah harga pasar.
"Oleh karena itu, setelah itu, mungkin terjadi peningkatan yang lebih besar dari harga dasar yang rendah ketika harga kembali normal mendekati harga pasar yang berlaku," kata Syed Harun.
(rti)[Gambas:Video CNN]
