Tanda Depresi pada Anak yang Kerap Terabaikan Orang Tua

CNN Indonesia
Jumat, 06 Feb 2026 12:00 WIB
Depresi pada anak muncul lewat perubahan perilaku yang dianggap wajar. Psikolog mengingatkan pentingnya deteksi dini agar anak segera mendapat bantuan.
Ilustrasi. Orang tua harus tahu tanda anak mengalami depresi. (iStock/Nuttawan Jayawan)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus dugaan bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bahwa tanda-tanda depresi pada anak kerap muncul, namun sering terabaikan dari perhatian orang tua maupun lingkungan terdekat.

Padahal, gejala depresi pada anak biasanya sudah tampak jauh sebelum kondisi memburuk. Sayangnya, tanda-tanda tersebut kerap dianggap sebagai perilaku anak pada umumnya sehingga tidak segera ditangani secara serius.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan, depresi pada anak memiliki spektrum gejala yang luas dan sering kali tumpang tindih dengan fase perkembangan usia kanak-kanak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tandanya itu banyak dan sering kali overlap dengan ciri-ciri usia anak. Jadi mungkin akan menyulitkan buat lingkungannya, terutama keluarga, untuk mendeteksi sedari awal," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/2).

Menurut Mira, ada sejumlah tanda yang patut diwaspadai orang tua dan lingkungan sebagai indikasi anak sedang mengalami depresi:

1. Perubahan perilaku

Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah perubahan perilaku. Anak yang sebelumnya ceria dan aktif bisa tiba-tiba menjadi lebih pendiam dan menarik diri, baik di rumah maupun di sekolah.

2. Gelisah dan sensitif

Anak yang mengalami depresi juga cenderung tampak lebih gelisah, sensitif, dan mudah tersinggung. Mereka dapat terlihat tidak nyaman berada dalam interaksi sosial dan lebih mudah terusik oleh hal-hal kecil.

Pada usia sekolah dasar, tanda-tanda ini sebenarnya dapat terdeteksi jika orang tua maupun guru cukup peka terhadap perubahan sikap anak dalam keseharian.

3. Menarik diri dan lesu

Selain gelisah, anak yang mengalami depresi dapat menunjukkan penurunan energi yang cukup jelas.

"Anak yang tadinya riang bermain bisa jadi menarik diri, terlihat lesu, lunglai, tidak bersemangat, dan kurang responsif, baik dalam komunikasi maupun aktivitas belajar di kelas," ujar Mira.

Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai anak yang malas, manja, atau sekadar kelelahan. Padahal, pada sejumlah kasus, hal tersebut merupakan sinyal awal gangguan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius.

4. Gangguan tidur

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan pola tidur. Anak dapat mengalami kesulitan tidur, tidur gelisah, sering terbangun di malam hari, atau justru tidur berlebihan, terutama pada fase prapubertas.

Gangguan tidur ini umumnya berdampak pada aktivitas anak di siang hari. Anak menjadi lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan semangat untuk beraktivitas seperti biasanya.

Mira menegaskan, semakin cepat gejala depresi dikenali oleh keluarga dan lingkungan, semakin besar peluang anak untuk pulih.

"Segala macam gangguan itu semakin cepat diketahui keluarga, penanganannya akan semakin baik dan prognosisnya juga lebih positif," kata dia.

Kasus anak bunuh diri di NTT menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak tidak boleh dipandang sebelah mata. Perubahan kecil dalam perilaku anak perlu dilihat sebagai sinyal penting, bukan sekadar fase tumbuh kembang.

Kesadaran orang tua, keluarga, dan sekolah untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak menjadi langkah awal agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

(nga/tis)


[Gambas:Video CNN]