Mengenal Cuci Darah, Prosedur, dan Manfaatnya bagi Pasien Gagal Ginjal
Cuci darah atau dialisis menjadi prosedur medis penting bagi pasien gagal ginjal stadium lanjut ketika organ ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal.
Dalam kondisi ini, tubuh membutuhkan bantuan untuk membuang limbah, kelebihan cairan, serta menjaga keseimbangan zat penting dalam darah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa dialisis, zat sisa metabolisme dapat menumpuk dan memicu berbagai komplikasi serius. Karena itu, dialisis berperan sebagai terapi penunjang untuk membantu tubuh tetap berfungsi.
Mengutip MedicineNet, berdasarkan teknik yang digunakan, dialisis terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hemodialisis dan dialisis peritoneal.
1. Hemodialisis
Hemodialisis merupakan metode dialisis yang paling umum digunakan dan paling sering dikenal masyarakat sebagai cuci darah. Pada prosedur ini, darah dialirkan keluar tubuh menuju mesin khusus yang disebut dializer.
Dializer berfungsi seperti ginjal buatan yang menyaring limbah, garam, dan kelebihan cairan dari darah sebelum darah bersih dikembalikan ke dalam tubuh. Prosedur ini dapat dilakukan di fasilitas dialisis atau di rumah.
1. Dialisis peritoneal
Berbeda dengan hemodialisis yang membersihkan darah di luar tubuh, pada teknik ini membantu menyaring darah di dalam tubuh itu sendiri.
Hal ini dilakukan dengan membiarkan cairan dialisis dimasukkan ke rongga perut, lalu dikeluarkan kembali setelah menyerap limbah. Dialisis peritoneal umumnya dapat dilakukan di rumah dan menjadi pilihan bagi sebagian pasien dengan kondisi tertentu.
Bagaimana prosedur cuci darah dilakukan?
Melansir Mayo Clinic, pasien yang akan menjalani hemodialisis perlu melalui tahap persiapan berupa pembuatan akses pembuluh darah. Akses ini menjadi jalur keluar-masuk darah selama proses penyaringan. Beberapa jenis akses yang digunakan antara lain:
- Arteriovenous (AV) fistula, yaitu sambungan arteri dan vena yang dibuat melalui tindakan bedah dan paling sering digunakan.
- AV graft, menggunakan selang sintetis untuk menghubungkan arteri dan vena.
- Kateter vena sentral, biasanya digunakan dalam kondisi darurat atau sementara.
Hemodialisis umumnya dilakukan tiga kali seminggu dengan durasi sekitar 3-5 jam per sesi. Selama prosedur berlangsung, pasien biasanya duduk atau berbaring dan dapat melakukan aktivitas ringan seperti membaca atau beristirahat.
Tahapan hemodialisis meliputi:
- Pemeriksaan awal berupa berat badan, tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh.
- Pemasangan dua jarum pada akses pembuluh darah yang terhubung ke dializer.
- Proses penyaringan darah, di mana limbah dan cairan berlebih berpindah ke cairan pembersih (dialisat).
- Pemantauan tekanan darah dan detak jantung secara berkala.
- Pelepasan jarum dan pemasangan perban tekan setelah prosedur selesai.
Manfaat cuci darah bagi pasien
Cuci darah memberikan manfaat besar bagi pasien gagal ginjal. Prosedur ini membantu sebagai berikut.
- Membantu mengontrol tekanan darah.
- Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
- Mengurangi gejala akibat penumpukan racun, seperti mual, lelah, dan pembengkakan.
Dengan dialisis yang rutin dan terkontrol, banyak pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Ditambahkan dari News Medical, dialisis tidak hanya membantu memperpanjang harapan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gagal ginjal. Meski tidak menyembuhkan penyakit ginjal, dialisis berperan sebagai terapi penunjang yang memungkinkan tubuh tetap berfungsi.
Namun demikian, pasien tetap perlu disiplin menjalani pengobatan, mengikuti pola makan yang dianjurkan, serta rutin memeriksakan kondisi kesehatannya agar manfaat cuci darah dapat dirasakan secara optimal.
(nga/fef)[Gambas:Video CNN]


