Waspada Kanker Ginjal, Penyakit Senyap dan Sering Terlambat Terdeteksi

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 05:00 WIB
Kanker ginjal kerap terlambat disadari. Kenali risikonya dan teknologi bedah robotik Da Vinci XI yang kini tersedia di Indonesia.
Ilustrasi. Waspada kanker ginjal yang gejalanya sering tidak disadari. (istockphoto/blueshot)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kanker ginjal menjadi salah satu penyakit serius yang sering kali baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut. Padahal, deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.

Dokter Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal A.H. Hamid menjelaskan bahwa kanker ginjal berbeda dengan gagal ginjal kronis yang selama ini kerap disalahpahami masyarakat.

"Kanker ginjal adalah pertumbuhan sel-sel ginjal yang abnormal hingga menjadi ganas. Sementara gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal dalam menyaring darah secara sempurna," ujar Agus dalam acara temu media yang digelar Eka Hospital BSD di Jakarta, Selasa (13/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor risiko dan usia penderita

Seperti kanker pada umumnya, kanker ginjal muncul akibat berbagai faktor. Agus menyebut sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari kebiasaan merokok, obesitas, hipertensi, hingga metabolic syndrome.

Kondisi metabolic syndrome biasanya ditandai dengan kadar gula darah dan kolesterol yang tinggi. Faktor genetik juga turut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengidap kanker ginjal.

Soal usia, kanker ginjal tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Meski prevalensinya memang lebih tinggi pada orang tua, kanker ini juga bisa muncul sejak usia muda, terutama pada individu yang memiliki kerentanan genetik.

"Kalau seseorang punya faktor genetik, kanker ginjal bisa muncul sejak usia muda," kata Agus.

Proses pengobatan kanker ginjal

Penanganan kanker ginjal sangat bergantung pada stadium dan luas penyebaran tumor. Jika kanker masih terbatas di area ginjal, dokter dapat melakukan operasi pengangkatan tumor saja. Namun, bila ukuran tumor sudah besar, pengangkatan ginjal secara keseluruhan mungkin diperlukan.

Sementara itu, jika kanker telah menyebar ke organ lain, pasien umumnya memerlukan terapi lanjutan berupa imunoterapi. Agus menegaskan bahwa kemoterapi kini bukan lagi pilihan utama dalam pengobatan kanker ginjal.

Meski telah menjalani operasi, risiko kekambuhan juga tetap ada. "Saat operasi bisa saja ada sel tumor yang tertinggal dan kemudian tumbuh kembali," ujarnya.

Karena itu, Agus menyarankan kelompok berisiko untuk rutin melakukan screening kesehatan.

"Pasien dengan obesitas, hipertensi, atau kebiasaan merokok sebaiknya melakukan screening jika muncul gejala. Begitu juga mereka yang punya riwayat keluarga dengan kanker ginjal," katanya.

Bedah robotik untuk pasien kanker dan tumor ginjal

Kabar baik juga datang bagi pasien kanker di Indonesia. Kini, pasien tak perlu lagi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan modern. Eka Hospital MT Haryono telah menghadirkan teknologi bedah robotik Da Vinci XI, sistem bedah minimal invasif yang memungkinkan tindakan dilakukan dengan presisi tinggi.

Meski kerap disebut robot, Da Vinci XI tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter spesialis. Teknologi ini membantu dokter menjangkau area operasi yang sulit tanpa harus membuat banyak sayatan besar.

Sistem Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, sistem audiovisual yang memungkinkan dokter melihat area operasi dengan sangat jelas. Kedua, patient cart dengan empat lengan robot yang berada langsung di atas pasien.

"Ketiga, surgical console, tempat dokter duduk dan mengendalikan pergerakan lengan robot secara ergonomis," kata dia.

Melalui konsol ini, dokter dapat melihat kondisi organ pasien dalam tampilan tiga dimensi (3D), sehingga pergerakan alat menjadi lebih presisi dan bebas tremor.

Keunggulan operasi robotik

Perbedaan utama antara operasi robotik dan laparoskopi konvensional terletak pada kestabilan dan fleksibilitas alat. Lengan robot Da Vinci XI mampu berputar dan meliuk menyerupai tangan manusia, sehingga sayatan dapat dilakukan lebih akurat tanpa risiko tremor atau kelelahan tangan.

Keunggulan lainnya, sistem ini dilengkapi empat lengan robot, memungkinkan satu dokter melakukan tindakan yang biasanya membutuhkan dua operator.

Bagi pasien, operasi robotik menawarkan masa pemulihan yang lebih cepat karena sayatan minimal dan tingkat presisi yang tinggi. Rendahnya angka komplikasi pascaoperasi juga membuat banyak pasien dapat keluar dari rumah sakit lebih cepat dibandingkan operasi konvensional.

"Teknologi robotik merupakan bagian dari masa depan dunia kedokteran. Kami berupaya terus mengadopsi kemajuan medis agar pasien di Indonesia bisa mendapatkan perawatan terbaik tanpa harus berobat ke luar negeri," tutupnya.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]