Intip Vending Machine yang Jual Obat, Tak Perlu ke Apotek?
Tak hanya makanan dan minuman yang dijual di mesin penjual otomatis alias vending machine. Kini kamu bisa menemukan vending machine obat.
ApoTech+ melakukan uji coba vending machine obat. Tak hanya sebagai mesin penjual obat, mesin apotek digital ini juga dirancang sebagai sistem layanan farmasi terpadu. Mesin memungkinkan pengguna berkonsultasi langsung dengan apoteker melalui sambungan video, terutama sebelum membeli obat bebas terbatas dan obat keras.
Lihat Juga : |
"Kami memang masih dalam fase uji coba. Tujuannya untuk melihat bagaimana masyarakat berinteraksi dengan mesin ini, apakah alurnya mudah dipahami, dan sejauh mana layanan telefarmasi bisa membantu kebutuhan obat sehari-hari," ujar Harie kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/2).
Tahap uji coba dikemas dalam agenda Exclusive First Reveal of ApoTech+. Diklaim sebagai mesin apotek digital pertama di Indonesia, jenama diperkenalkan di dua periode dan di dua lokasi berbeda.
ApoTech+ hadir di kawasan M Bloc, Jakarta Selatan, yang dikenal sebagai ruang publik dengan aktivitas pengunjung yang padat. Uji coba kemudian dilanjutkan pada 14-15 Februari 2026 di Antasari Place, Jakarta Selatan, dengan sasaran utama pengunjung kawasan perkantoran.
Bagaimana cara beli obat lewat vending machine?
Kamu tidak bisa begitu saja membeli obat di vending machine ApoTech+ seperti membeli makanan atau minuman di vending machine biasa.
Mesin punya alur khusus dalam pembelian obat. Pengguna memulai proses dengan memilih obat atau kategori keluhan melalui layar sentuh. ApoTech+ menyediakan berbagai pilihan obat untuk keluhan ringan, seperti pusing, sakit perut, alergi, hingga kebutuhan pertolongan pertama dan vitamin. Untuk obat tertentu, pengguna juga dapat lebih dulu berkonsultasi sebelum memutuskan pembelian.
Fitur telefarmasi memungkinkan pengguna terhubung langsung dengan apoteker melalui panggilan video. Layanan ini difokuskan pada edukasi obat dan aturan pakai, bukan untuk mendapat diagnosis penyakit.
Dari sisi jenis obat, ApoTech+ menerapkan sistem klasifikasi yang sama seperti apotek pada umumnya. Untuk obat bebas dengan tanda hijau, pengguna dapat langsung memilih produk, melakukan pembayaran, dan obat akan otomatis dikeluarkan oleh mesin.
Namun, mekanisme berbeda berlaku untuk obat bebas terbatas dan obat keras. Pada kategori ini, sistem secara otomatis menghentikan transaksi dan mengarahkan pengguna untuk berkonsultasi dengan apoteker melalui fitur telefarmasi.
"Kalau obat bebas terbatas atau obat keras, nanti sistem nggak akan bisa ngasih. Makanya sistem akan bikin warning untuk bicara dulu dengan telefarmasi," kata Harie Wijayanto, Manager Retail ApoTech+ kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/2).
Dalam proses tersebut, apoteker berperan memvalidasi kebutuhan obat, memastikan keberadaan resep bila diperlukan, serta menjelaskan aturan penggunaan obat secara langsung kepada pengguna.
Kamera yang terpasang di dalam mesin memungkinkan apoteker melihat pembeli yang sedang berkonsultasi. Resep dokter yang diunggah juga diperiksa secara visual sebelum transaksi dilanjutkan.
"Di situ kan ada kamera. Jadi apoteker bisa lihat siapa yang nebus. Kalau misalnya yang nebus anak kecil, bisa ditolak," kata Harie.
Untuk obat keras, pengguna wajib memindai resep dokter. Resep tersebut kemudian diverifikasi oleh apoteker sebelum obat dapat dikeluarkan. Jika resep dianggap tidak valid atau tidak sesuai, transaksi tidak akan dilanjutkan.
Lihat Juga : |
Selain sistem konsultasi, ApoTech+ juga menerapkan standar pengelolaan obat layaknya apotek. Seluruh produk disimpan dalam kondisi suhu terkontrol sekitar 25 derajat Celcius untuk menjaga kualitas obat.
"Semua barang di sini itu under temperature control. Jadi kualitas produk terjaga," ujar Harie.
Dalam tahap pilot ini, jenis obat dan produk kesehatan yang tersedia disesuaikan dengan karakter masing-masing lokasi. Di area tertentu, mesin lebih banyak menyediakan vitamin, perlengkapan pertolongan pertama, serta kebutuhan kesehatan ringan.
Sementara di lokasi lain, pilihan produk difokuskan pada obat keluhan umum seperti maag, pusing, hingga kebutuhan sanitasi harian.
"Setiap lokasi bisa berbeda. Kalau di gym atau area olahraga, kebutuhannya vitamin dan P3K. Kalau di kawasan perkantoran, bisa lebih ke obat keluhan harian. Itu yang sedang kami pelajari lewat pilot ini," ujar Harie.
Melalui uji coba ini, ApoTech+ juga mengumpulkan masukan langsung dari pengguna, mulai dari kemudahan berkonsultasi dengan apoteker, kejelasan informasi obat, hingga kenyamanan penggunaan mesin di ruang publik.
Seluruh temuan dan evaluasi tersebut akan menjadi dasar pengembangan sistem ApoTech+ sebelum layanan ini dipasarkan dan diterapkan secara lebih luas di berbagai titik fasilitas publik.
(nga/els)