Benarkah Mengganti Santan dengan Susu Lebih Sehat? Ini Kata Dokter

CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 09:00 WIB
Mengganti santan dengan susu kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat. Benarkah demikian?
Ilustrasi. Mengganti santan dengan susu kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mengganti santan dengan susu kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat, terutama bagi mereka yang ingin menjaga berat badan dan kolesterol. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar jika dilihat dari sisi kandungan gizi dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menjelaskan, santan berasal dari kelapa tua yang memiliki kandungan lemak jenuh cukup tinggi. Lemak jenuh inilah yang berisiko meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat memicu penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis. Selain berdampak pada kesehatan jantung, santan kental juga menyumbang kalori yang besar sehingga berpotensi meningkatkan berat badan.

"Santan yang terlalu kental tentu tidak baik untuk kesehatan dan juga karena mengandung banyak kalori, membuat kita menjadi gemuk," kata Johanes kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/2).

Meski sama-sama berasal dari sumber alami, Johanes menegaskan santan belum tentu lebih unggul dibandingkan susu. Dari sisi kandungan kalsium, susu sapi justru memiliki jumlah yang lebih tinggi.

"Kita tahu kandungan susu sapi yang tinggi kalsium itu per gelasnya mengandung 500 mg kalsium. Kebutuhan kalsium wanita dewasa itu sekitar 1.200 mg kalsium per hari," jelasnya.

Selain kalsium, susu sapi juga mengandung protein lebih tinggi dibandingkan santan. Karena itu, bagi individu yang tidak memiliki intoleransi laktosa, konsumsi susu dinilai lebih menguntungkan dari sisi gizi.

Namun, Johanes mengingatkan bahwa tidak semua orang cocok mengonsumsi susu. Banyak masyarakat Asia mengalami intoleransi laktosa, yaitu kurangnya enzim pemecah laktosa di dalam usus.

"Dengan akibat kalau orang itu minum susu sapi, maka gula laktosanya tidak tercerna dengan baik, sehingga gula laktosa ini akan dibuang. Dan di usus dia akan menarik air dan difermentasi oleh bakteri, sehingga timbul keluhan-keluhan seperti kembung, banyak gas, kadang-kadang diare juga," kata Johanes.

Kefir, milk or Turkish Ayran drink are poured into a glass cup from a bottle. A glass stands on a wooden stand on a rustic wooden table. Place for text.Ilustrasi. Mengganti santan dengan susu kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat. (iStockphoto/Elena Medoks)

Bagi kelompok ini, konsumsi susu justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan tidak dianjurkan. Sementara santan, meski tinggi lemak jenuh, bersifat bebas laktosa.

Johanes pun menyarankan agar konsumsi santan tetap dibatasi, baik dari segi jumlah maupun kekentalannya. Santan boleh dikonsumsi sesekali, namun tidak berlebihan.

Ia mencontohkan konsumsi kolak saat Ramadhan. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak menghabiskan kuah kolak karena mengandung gula dan santan dalam jumlah tinggi.

"Kalau kita hirup semua kuah dari kolak tersebut, tentunya akan menambah risiko untuk munculnya obesitas," kata Johanes.

Mengganti santan dengan susu tidak selalu lebih sehat untuk semua orang. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kondisi tubuh, toleransi terhadap laktosa, serta jumlah dan frekuensi konsumsinya. Baik santan maupun susu sebaiknya dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan.

(nga/asr)


[Gambas:Video CNN]