Sering Dibungkus Humor, Tindakan Ini Juga Bentuk Pelecehan Seksual
Banyak tindakan yang sebenarnya termasuk pelecehan seksual masih dianggap humor atau hal lumrah dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya mengomentari bagian tubuh. Padahal, perilaku tersebut dapat melukai korban secara psikologis dan berdampak jangka panjang.
Psikolog Mira Amir menilai, kesadaran masyarakat terhadap batasan personal masih rendah. Tidak sedikit pelaku yang merasa tindakannya sekadar bercanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari masyarakat kita itu, masih enggak sadar bahwa perilaku tindak tanduknya buat para pelakunya ya bahwa mereka sudah melakukan harassment, pelecehan juga sebetulnya," ujar Mira kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (13/2).
Menurut Mira, salah satu bentuk yang sering tidak disadari adalah komentar terhadap bagian tubuh, terutama area privat. Pembahasan mengenai ukuran atau bentuk tubuh kerap dibungkus sebagai humor.
Komentar semacam ini tetap tergolong pelecehan jika dilakukan tanpa persetujuan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Pelecehan juga tidak terbatas pada perempuan. Laki-laki pun dapat menjadi korban, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.
Pelecehan bisa sebabkan depresi
Pelecehan seksual dapat menimbulkan rasa malu, marah, dan tidak aman. Jika terjadi berulang, dampaknya bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan dan depresi.
"Pelecehan, apalagi kalau sudah sampai tindakan itu, rentan mengalami depresi," ucap Mira.
Depresi dapat memengaruhi kualitas hidup korban secara menyeluruh. Kepercayaan diri menurun, relasi sosial terganggu, dan produktivitas merosot.
Pada sebagian orang, trauma membuat mereka menghindari situasi sosial tertentu atau mengalami ketakutan berlebihan terhadap lawan jenis.
Pada anak dan remaja, dampaknya bisa lebih kompleks. Mereka mungkin belum memiliki pemahaman memadai tentang batasan tubuh, sehingga kebingungan dan rasa bersalah sering muncul. Tanpa pendampingan yang tepat, trauma dapat terbawa hingga dewasa.
Mira menekankan, edukasi mengenai batasan tubuh dan persetujuan harus diberikan sejak dini. Pelecehan tidak bisa dinormalisasi sebagai candaan atau budaya.
Masyarakat perlu memahami, kenyamanan dan persetujuan merupakan hal utama dalam setiap interaksi. Menghormati batasan orang lain bukan sekadar sopan santun, melainkan fondasi keselamatan psikologis.
Mengakui bahwa pelecehan bisa terjadi dalam bentuk yang halus sekalipun, merupakan langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih besar terhadap kesehatan mental korban.
(nga/rti)[Gambas:Video CNN]
