Kenapa Korban Pelecehan Seksual Kerap Memilih Diam?
Korban pelecehan seksual kerap memilih diam dan tidak langsung melapor. Bukan karena setuju atau mengada-ada, melainkan karena respons psikologis setelah kejadian bisa sangat kompleks dan melumpuhkan.
Nama Mohan Hazian belakangan menjadi sorotan di media sosial setelah dirinya diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu talent dalam proyek pemotretan.
Keberanian korban untuk akhirnya bersuara pun menuai perhatian warganet. Meski membutuhkan waktu, ia memutuskan angkat bicara atas pengalaman yang dialaminya.
Banyak orang mengira bersuara atas kasus pelecehan adalah hal yang mudah. Korban dianggap cukup menceritakan ulang kejadian yang dialami. Padahal, prosesnya jauh lebih rumit dari itu.
Dalam konteks trauma, diam bukan berarti persetujuan. Diam bisa menjadi bagian dari respons alami ketika seseorang menghadapi peristiwa yang mengancam dan tak terduga.
Psikolog klinis Mira Amir menjelaskan, reaksi awal yang paling umum muncul pada korban adalah shock. Dalam kondisi tersebut, otak belum sepenuhnya mampu memproses kejadian secara utuh.
"Karena pasti mereka shock dulu, kaget. Ini bukan peristiwa yang biasa mereka alami. Jadinya mereka shock, tidak menyadari sepenuhnya apa yang terjadi," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (13/2).
Shock dapat membuat korban membeku (freeze), sulit bergerak, atau bahkan tak mampu berkata-kata. Reaksi ini kerap disalahartikan sebagai bentuk persetujuan atau ketidakseriusan. Padahal, secara psikologis, itu merupakan mekanisme pertahanan diri.
Tak hanya shock, korban juga kerap diliputi rasa malu karena merasa area privatnya terekspos. Rasa takut pun bisa muncul, terutama jika pelaku memiliki posisi atau kuasa yang lebih tinggi. Dalam situasi dengan ketimpangan kekuasaan, korban bisa merasa terancam secara sosial maupun profesional.
"Jadi ada malu, ada kaget. Perlahan timbul rasa marah, juga mungkin ada takut kalau ada ketimpangan kekuasaan di situ. Jadi memang emosinya sangat intens," ujar Mira.
Campuran emosi tersebut tidak mudah diproses. Korban membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, menerima kenyataan, serta mengumpulkan keberanian untuk bercerita.
Tak sedikit korban yang baru menyadari dirinya mengalami pelecehan setelah mendapatkan edukasi atau mendengar pengalaman serupa dari orang lain.
"Butuh waktu lama, karena mereka harus mengolah itu satu per satu," katanya.
Proses mengolah trauma mencakup menerima perasaan marah, kecewa, takut, hingga rasa bersalah yang kerap muncul. Sebagian korban bahkan menyalahkan diri sendiri, mempertanyakan pakaian yang dikenakan atau sikap yang ditunjukkan saat kejadian. Padahal, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku.
Pelecehan seksual bukan sekadar pengalaman tidak menyenangkan. Dalam banyak kasus, peristiwa ini meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Korban berisiko mengalami gangguan kecemasan, sulit tidur, mudah panik, hingga depresi.
"Depresi itu ujungnya adalah kemungkinan korban memiliki pikiran untuk bunuh diri atau bahkan melakukan upaya bunuh diri itu sendiri," ujar Mira.
Ia menekankan pentingnya bantuan profesional. Konseling rutin dengan psikolog dapat membantu korban memproses trauma secara bertahap. Dalam beberapa kasus, intervensi psikiater dan terapi obat mungkin dibutuhkan.
"Dampak trauma dari pelecehan seksual ini bisa jangka panjang, dan efeknya berat," tuturnya.
Selain berjuang dengan trauma pribadi, korban juga kerap menghadapi stigma dari lingkungan. Stigma ini membuat sebagian korban semakin enggan bersuara karena takut tidak dipercaya, dihakimi, atau justru disudutkan.
Menurut Mira, edukasi publik tentang batasan tubuh dan dampak psikologis pelecehan menjadi kunci untuk memutus lingkaran tersebut. Memberikan ruang aman, mendengar tanpa menghakimi, serta memvalidasi pengalaman korban merupakan langkah awal yang krusial dalam proses pemulihan.
(nga/tis)