Cerita Bocah 7 Tahun di Bogor Idap Leukemia, Harus 108 Kali Kemoterapi

CNN Indonesia
Minggu, 15 Feb 2026 05:00 WIB
Seorang bocah asal Bogor, Jawa Barat viral di media sosial gara-gara diketahui tengah berjuang melawan kanker darah di usianya yang baru menginjak 7 tahun.
Ilustrasi. Seorang bocah asal Bogor, Jawa Barat viral di media sosial gara-gara diketahui tengah berjuang melawan kanker darah di usianya yang baru menginjak 7 tahun. (iStock/AgFang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang bocah asal Bogor, Jawa Barat viral di media sosial gara-gara diketahui tengah berjuang melawan kanker darah atau leukemia di usianya yang baru menginjak 7 tahun.

Kisah tentang Devin Nur Feyza menjadi pengingat bagi orang tua terkait leukemia yang bisa saja menyerang si kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sang ayah, Nurjayadih, bercerita bahwa Devin pertama kali didiagnosis leukimia pada tahun 2024.

Kala itu, Devin mengalami gejala demam yang tak kunjung mereda meski sudah diberikan obat. Selain demam, Devin juga mengalami memar-memar di sekujur tubuhnya.

"Awalnya ke klinik dulu, selang tiga hari obatnya habis, tapi demam enggak turun-turun," ujar Nurjayadih, Jumat (13/2), melansir detikhealth.

Kondisi memar yang semakin banyak membuat Nurjayadih membawa Devin ke salah satu rumah sakit di Bogor. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan di sejumlah rumah sakit, Devin pun didiagnosis leukemia.

Kanker darah pada anak sendiri disebabkan oleh banyak faktor, termasuk mutasi genetik atau riwayat hingga pola makan. Dari keluarga, lanjut Nurjayadih, tak ada riwayat kanker.

Dari sana, Nurjayadih menduga pola makan lah yang jadi penyebab kanker leukemia pada Devin. Menurutnya, Devin kerap mengonsumsi makanan olahan alias ultra processed food (UPF).

"Kalau untuk Devin, termasuk sering makan makanan instan, kayak sosis dan nugget," ujar Nurjayadih.

Kini, Devin tengah menjalani perawatan dengan kemoterapi untuk mematikan sel-sel kanker yang ada di dalam tubuhnya. Total, ada 108 kali kemoterapi yang harus dijalani Devin.

"Total kemo yang harusnya dijalani itu 108 kali. Terakhir sudah sampai ke-54, berarti tinggal 54 kali lagi," ujar Nurjayadih.

Melalui konten yang dibagikannya di media sosial, Nurjayadih berharap masyarakat bisa lebih teredukasi dan peka terhadap gejala leukemia pada anak.

Leukemia sendiri kanker jaringan pembentuk darah (sumsum tulang) yang memicu produksi sel darah putih secara tidak terkontrol. Kondisi ini membuat penderita mudah lelah, gampang terinfeksi, dan mengalami perdarahan.

Pada anak, gejala leukemia bisa berupa beberapa hal berikut:

- wajah terlihat pucat dan mudah lelah,
- memar tanpa sebab,
- mimisan berulang atau gusi berdarah,
- demam berkepanjangan,
- nyeri kaki atau punggung hingga menolak berjalan,
- pembengkakan kelenjar getah bening,
- perut terasa penuh,
- penurunan nafsu makan,
- penurunan berat badan tanpa sebab,
- keringat berlebih, terutama di malam hari.

Jika anak mengalami gejala di atas secara konsisten, segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit.

(asr)


[Gambas:Video CNN]