Tren Baru, Anak Muda China Rayakan Imlek secara Virtual dan Pakai AI
Perayaan Tahun Baru Imlek di China kini mengalami transformasi unik yang dibawa oleh generasi muda. Mereka merayakan Imlek secara virtual, seperti membakar dupa digital, bertukar hadiah secara elektronik, hingga menggunakan AI.
Tradisi kuno seperti membakar dupa dan berziarah ke kuil, kini beralih ke ranah digital. Para muda-mudi yang lelah dengan rutinitas fisik memilih "cyber worshipping" atau pemujaan daring sebagai cara baru menyambut keberuntungan dan ketenangan batin.
Mereka mengikuti siaran langsung berisi asap dupa digital, lentera berkedip, dan patung Buddha, menciptakan suasana relaksasi yang menenangkan.
Melansir South China Morning Post, beberapa aplikasi merespons tren ini dengan menghadirkan simulator kayu ikan elektronik yang dapat diketuk secara otomatis atau manual. Aplikasi ini membantu pengguna mengurangi stres dan menenangkan pikiran.
Situs kuil daring juga menawarkan layanan seperti "penawaran dupa daring" dan "pemujaan Buddha virtual" yang diklaim sebagai alternatif ramah lingkungan dan praktis tanpa perlu bepergian ke kuil fisik.
Harganya terjangkau, mulai dari 5,9 yuan (sekitar Rp14.300) untuk membakar sebatang dupa, hingga 9,9 yuan (sekitar Rp24.000) untuk menyalakan lampion berkah. Layanan ini menarik ribuan pengguna aktif.
Salah satu platform melaporkan sudah melayani 891.500 pengguna yang mengikat 1,23 juta pita doa pada pohon harapan digital serta menyalakan 539.800 lampion damai di dunia maya.
Tak hanya layanan ritual secara digital, karakter kecerdasan buatan (AI) kini juga menjadi pelipur lara bagi banyak muda-mudi China. Tekanan sosial selama liburan Imlek, seperti pertanyaan tentang pernikahan, penghasilan, dan karier, menyebabkan fenomena fobia sosial Tahun Baru.
Untuk mengatasi rasa kesepian dan kecemasan, banyak yang memilih menjauhi kampung halaman dan mencari kenyamanan lewat pendamping AI serta ritual digital.
Su Ran, seorang wanita muda yang merayakan Imlek sendirian di apartemen sewa di Beijing, mengaku tidak menemukan kehangatan dari telepon keluarga, tetapi dari karakter AI lucu di ponselnya.
"Karakter itu meredakan kecemasan saya menjelang Imlek. Meski radiator di apartemen saya kurang hangat dan udara dingin masuk lewat jendela, melihat karakter itu di layar membuat ruangan terasa sedikit lebih hangat," ujar Su Ran.
Adapun Yang, perempuan kelahiran 2002 memilih membeli barang-barang digital ketimbang untuk merayakan Imlek.
"Beberapa orang merasa hadiah fisik lebih sakral, tetapi saya sulit menebak apa yang diinginkan orang lain. Hadiah digital lebih kreatif," ujar Yang.
Menurut mantan psikiater dan konselor tersertifikasi, Shi Yu, hadiah fisik memang memiliki nilai ritual, tetapi bisa menjadi beban.
"Hadiah makanan sering menimbulkan duplikasi, masalah penyimpanan, dan kekhawatiran soal kedaluwarsa. Hadiah digital lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda yang dinamis," kata Shi Yu.
Menurutnya, hadiah digital menghilangkan kerepotan berbelanja fisik sekaligus tetap menciptakan suasana perayaan.
"Bagi yang merayakan jauh dari rumah, hadiah ini membantu menjembatani jarak, memungkinkan personalisasi, mencerminkan selera individu, dan menimbulkan rasa 'kita benar-benar saling mengerti'," Shi Yu menambahkan.
(rti)