#USTAZTANYADONG

Memendam Emosi Saat Puasa, Batal atau Tidak?

CNN Indonesia
Senin, 23 Feb 2026 15:00 WIB
Marah dan sedih saat puasa, apakah membatalkan? Simak penjelasan hukumnya dan dampaknya pada pahala.
Ilustrasi. Memendam emosi, terutama saat berpuasa apakah bikin puasa batal? (istockphoto/skynesher)
Jakarta, CNN Indonesia --

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah latihan mengendalikan diri, termasuk mengelola emosi yang kerap muncul tanpa diduga.

Di tempat kerja, di rumah, atau di jalan, rasa marah, sedih, kecewa, bahkan tangis bisa saja hadir. Lantas, apakah memendam emosi di dalam hati membatalkan puasa?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi. Ia menjelaskan, emosi seperti marah atau sedih tidak serta-merta membatalkan puasa.

Menurut KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi, secara hukum fikih, emosi, baik marah, menangis, atau kesal tidak membatalkan puasa.

"Yang membatalkan puasa itu adalah masuknya sesuatu ke dalam tubuh seperti makanan dan minuman dengan sengaja, atau berhubungan suami istri di siang hari, dan hal-hal lain yang memang disebutkan dalam fikih," jelasnya.

Sementara itu, emosi yang muncul di hati tidak termasuk dalam perkara yang membatalkan puasa. Artinya, puasanya tetap sah.

Namun, ada catatan penting.

Meski tidak membatalkan, emosi yang tidak terkendali bisa mengurangi nilai dan pahala puasa. Bahkan, jika dilakukan secara berlebihan hingga melahirkan perilaku buruk, pahala puasa bisa saja hilang.

"Secara hukum puasanya sah, tapi pahalanya bisa berkurang, bahkan tidak mendapatkan pahala jika berlebihan," ujarnya.

Puasa melatih kontrol diri

Hakikat puasa adalah melatih kesabaran dan ketakwaan. Dalam kondisi lapar dan haus, seseorang diuji untuk tetap mampu mengontrol diri, termasuk menahan amarah.

Karena itu, saat terpancing emosi, Islam mengajarkan cara sederhana namun bermakna, yakni mengingatkan diri sendiri.

"Kalau dipancing amarah, katakan saja, 'Saya sedang berpuasa.' Itu sebagai pengingat diri," kata Ustaz Wahyul.

Selain itu, memperbanyak istigfar dan berwudu juga dianjurkan. Wudu bukan hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga memberi jeda waktu agar emosi mereda dan pikiran kembali jernih.

Langkah-langkah sederhana ini bisa menjadi benteng agar pahala puasa tidak terkikis oleh luapan amarah sesaat.

Perkara yang bisa menghilangkan pahala puasa

Ada beberapa perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi bisa menghapus pahala. Di antaranya:

1. Berbohong.

2. Namimah atau mengadu domba.

3. Ghibah atau menggunjing, termasuk fitnah.

4. Sumpah palsu.

5. Memandang lawan jenis dengan tatapan syahwat atau tidak pantas.

Perbuatan-perbuatan tersebut menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, melainkan juga ibadah lisan, hati, dan perilaku.

Menahan diri dari makan dan minum memang penting, tetapi menjaga ucapan, pikiran, dan pandangan jauh lebih menantang.

Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]