Relation Sipping, Love Language Baru Gen Z yang Tak Berlebihan

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 11:30 WIB
Ilustrasi. Gen Z bergeser ke love language baru, yaitu relation sipping. (Pexels)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah banyaknya konten romantis di media sosial, Gen Z justru memaknai cinta sambil bergerak ke arah yang lebih sederhana.

Bukan lagi soal hadiah mahal atau momen megah yang Instagramable, melainkan perhatian kecil yang terasa tulus. Tren ini dikenal dengan istilah relation sipping.

Istilah tersebut merujuk pada cara membangun hubungan lewat gestur-gestur kecil tetapi konsisten seperti mengirim pesan selamat pagi, mengingat pesanan kopi favorit pasangan atau sekadar menanyakan kabar setelah hari yang melelahkan.

Selama bertahun-tahun, budaya populer membentuk gambaran cinta sebagai sesuatu yang dramatis. Namun pendekatan ini mulai bergeser.

Contohnya, di drama Korea Can This Love Be Translated, karakter Joo Ho-jin mengumpulkan semanggi berdaun empat untuk Cha Moo-hee sebagai simbol perhatian kecil yang bermakna.

Melansir NDTV, riset kolaborasi Pepsi UK dan platform kencan Thursday menemukan, mayoritas responden muda mengaku mulai meninggalkan gestur cinta yang dianggap berlebihan dan terlalu performatif.

Sebanyak 77 persen Gen Z dalam riset tersebut menyatakan lebih memilih gestur kecil yang manis dibandingkan aksi besar yang direncanakan.

Adapun 31 persen responden bahkan mengaku mulai meninggalkan ritual romantis yang dianggap klise, seperti memamerkan hubungan di media sosial, memberi hadiah berlebihan, atau merencanakan kencan yang terlalu rumit. Alasannya cukup beragam:

Hal ini menunjukkan, adanya kejenuhan terhadap romansa yang terasa seperti pertunjukan.

Secara sederhana, relation sipping adalah menikmati hubungan melalui perhatian kecil yang konsisten. Bukan momen yang sekali jadi dan besar, melainkan kebiasaan sederhana yang menumbuhkan kedekatan emosional.

Dalam riset tersebut, beberapa contoh gestur yang masuk dalam kategori ini antara lain:

Gestur-gestur ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki arti besar. Sebanyak 83 persen responden mengaku merasa lebih diperhatikan lewat perhatian kecil tersebut dan 85 persen merasa lebih dihargai.

Selain itu, 46 persen menyatakan tidak akan melanjutkan hubungan jika pasangan mengabaikan gestur-gestur kecil ini. Adapun 65 persen lainnya mengaku tidak nyaman jika pasangannya melakukan aksi romantis yang terasa dibuat-buat demi pencitraan.

Para ahli menilai, pergeseran ini berkaitan dengan meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap hal yang asli dan terasa nyata. Generasi ini tumbuh bersama media sosial dan sangat peka terhadap sesuatu yang terasa dipaksakan.

Pakar kencan dari Thursday, Abi Blears, mengatakan era kencan yang hanya memamerkan momen sudah mulai ditinggalkan. Gen Z cenderung menghindari relasi yang terasa seperti panggung pertunjukan.

Adapun Kepala pemasaran Pepsi UK&I, Steve Hind, menyebut momen terbaik dalam hidup justru sering kali ditemukan dalam hal-hal kecil.

Tren relation sipping menunjukkan, cinta tidak selalu harus ditunjukkan lewat simbol besar. Pada banyak pasangan, perhatian yang konsisten dan kepribadian seseorang justru lebih bermakna ketimbang kejutan spektakuler.

Di tengah budaya yang sering menilai hubungan dari tampilan luar, pendekatan ini menjadi pengingat bahwa esensi relasi terletak pada koneksi, bukan validasi publik.

(nga/rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK