Narasi Antivaksin dan Risiko Misinformasi Kesehatan
Jagat media sosial kembali diramaikan perdebatan soal vaksin. Kali ini, sorotan mengarah pada influencer kesehatan holistik, Rizki Novanti, yang dikenal dengan nama 'Bude Wellness'.
Konten di akun Instagram @kynov_ menuai polemik lantaran memuat pandangan antivaksin sekaligus sindiran terhadap profesi dokter. Percakapan itu bermula dari tangkapan layar Instagram Story yang dibagikan akun Threads @fajrianhaikalfaros.
Dalam unggahan tersebut, seorang warganet bertanya kepada akun @kynovwellness.
"Mbak kalau sudah terlanjur divaksin gimana ya?" Alih-alih menjawab dengan penjelasan medis, Bude Wellness merespons menggunakan analogi moral.
Ia menyebut seseorang yang melakukan kesalahan sekali sebagai 'khilaf' dan 'tuman' jika kesalahan itu diulang. Jawaban ini dinilai mempertegas posisinya sebagai penganut antivaksin.
Respons datang cepat. Pemilik akun Threads tersebut, yang diketahui seorang dokter, menyertakan data klinis sebagai bantahan.
Ia mengungkapkan, selama menangani pasien kanker serviks, seluruh pasien yang ia tanyai mengaku belum pernah menerima vaksin HPV. Menurutnya, vaksin HPV terbukti secara ilmiah mampu mencegah kanker serviks hingga 99 persen.
Data tersebut sejalan dengan berbagai penelitian global. World Health Organization bahkan menyebut vaksin sebagai salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam sejarah, yang mampu mencegah jutaan kematian setiap tahun.
Unggahan tersebut kemudian memicu reaksi dari sejumlah tenaga medis. Dokter @tirtawatiwijaya.md menilai narasi yang menentang upaya pencegahan penyakit yang telah terbukti secara ilmiah sebagai sesuatu yang meresahkan.
Sementara itu, dokter @destinandre menyoroti kontradiksi dalam konten Bude Wellness yang mengklaim sebagai praktisi wellness, tetapi justru menyebarkan narasi yang berpotensi menjauhkan masyarakat dari layanan medis terstandar.
Menurutnya, bahaya terbesar bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan ketika seseorang menunda atau menolak pengobatan medis karena terpapar narasi holistik tanpa dasar ilmiah alias pseudosains.
Komentar bernada keras juga datang dari @drh.ricky_halim. Ia menilai penyebaran informasi keliru soal kesehatan bisa menjadi 'dosa jariyah', yakni kesalahan yang terus mengalir karena ilmunya diikuti banyak orang.
Kontroversi semakin meluas setelah muncul Instagram Story lain dari Bude Wellness. Dalam unggahan tersebut, ia mengungkapkan alasan beralih ke kesehatan holistik karena tidak ingin tubuhnya diintervensi oleh 'oknum pelayan masyarakat yang kelakuannya kayak Tuhan' yang secara tersirat merujuk pada profesi dokter.
Ia menggambarkan oknum tersebut sebagai pihak yang gemar menghakimi dan merasa paling tahu kondisi kesehatan orang lain.
Pernyataan ini kembali menyulut perdebatan setelah dibagikan ulang di platform X. Unggahan itu mencatat ratusan ribu tayangan dan memicu komentar beragam, mulai dari dukungan hingga kritik bernada sarkastis terhadap sikap yang dianggap menyudutkan dunia medis konvensional.
Fenomena ini bukan yang pertama. Pada 2019, World Health Organization memasukkan keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terbesar kesehatan global.
Para para kesehatan mengingatkan, rumor dan misinformasi mengenai vaksin yang beredar di media sosial, termasuk teori konspirasi dan klaim tanpa bukti dapat memicu resistensi masyarakat terhadap program imunisasi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga komunitas secara luas melalui penurunan cakupan vaksinasi dan meningkatnya risiko wabah penyakit.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diimbau untuk merujuk pada sumber kesehatan yang terverifikasi, seperti dokter, fasilitas kesehatan resmi, dan lembaga kesehatan terpercaya sebelum mengambil keputusan terkait vaksinasi maupun pengobatan.
(tis/tis)