Ngabuburit Sambil Pacaran, Hati-hati Pahala Jadi Minus
Menjelang azan Magrib, banyak orang memilih ngabuburit untuk mengisi waktu. Ada yang berburu takjil, ikut kajian, hingga sekadar jalan santai bersama teman.
Namun, bagaimana jika ngabuburit dilakukan sambil pacaran?
Pertanyaan ini kerap muncul setiap Ramadhan. Apalagi, momen menunggu berbuka sering dijadikan alasan untuk bertemu pasangan dengan dalih 'cuma temenan' atau 'sekadar menunggu azan'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Menurut KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi, ngabuburit sambil pacaran dengan dalih berteman menunggu azan sangat membahayakan bagi kualitas puasa seseorang.
Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, bahkan di luar bulan Ramadan pun, umat sudah diperingatkan untuk tidak mendekati zina. Larangan itu termaktub jelas dalam Al-Qur'an dan bukan sekadar larangan melakukan zina, tetapi juga mendekatinya.
"Mendekati zina itu apa? Salah satunya berpacaran. Karena di dalamnya sangat mungkin terjadi khalwat atau berduaan di tempat sepi dengan yang bukan mahramnya," jelasnya.
Tak hanya khalwat, ia juga menyinggung potensi perilaku lain yang bisa terjadi dalam relasi pacaran, seperti bersentuhan fisik hingga tindakan yang lebih jauh. Hal-hal semacam ini, menurutnya, sangat berbahaya, terlebih di bulan suci Ramadhan.
Lalu, apakah puasa otomatis batal jika ngabuburit sambil pacaran?
Ustaz Wahyul menjelaskan bahwa dari sisi fikih, puasa memiliki pembatal yang jelas. Di antaranya memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan sengaja, hilang akal, berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan, atau keluarnya mani dengan sengaja.
"Kalau hanya bertemu atau jalan bareng, puasanya tidak otomatis batal. Tapi yang berbahaya adalah hilangnya pahala puasa," ujarnya.
Di sinilah letak persoalan yang sering luput dipahami. Banyak orang fokus pada 'batal atau tidak', tetapi lupa pada esensi puasa itu sendiri.
Padalah, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga diri dari perilaku yang bisa mengurangi nilai ibadah. Pahala puasa, menurut Ustaz Wahyul, bisa terkikis oleh berbagai perbuatan, seperti berbohong, gibah, namimah (adu domba), sumpah palsu, hingga memandang lawan jenis dengan tatapan penuh fantasi.
Ngabuburit yang seharusnya menjadi waktu refleksi justru bisa berubah menjadi momen yang berisiko menggerus pahala, jika tidak dijaga dengan baik.
Kata Ustaz Wahyul, Ramadan sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Menahan lapar dan haus hanyalah bagian paling dasar. Lebih dari itu, puasa mengajarkan kontrol terhadap hawa nafsu, termasuk dalam relasi dengan lawan jenis.
"Yang pasti, puasa itu menahan diri agar kita tidak batal dan tidak kehilangan nilai ibadahnya," tegas KH Wahyul.
Artinya, setiap aktivitas selama Ramadhan, termasuk ngabuburit perlu ditimbang kembali niat dan batasannya. Apakah benar sekadar menunggu waktu berbuka, atau justru membuka pintu pada hal-hal yang dilarang?
Bagi sebagian orang, jawaban ini mungkin terasa tegas. Namun, Ramadhan memang hadir untuk mendidik jiwa, bukan sekadar mengubah jadwal makan.
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong.
Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

