Jarang Ganti Celana Dalam Apa Benar Picu ISK? Ini Faktanya

CNN Indonesia
Jumat, 27 Feb 2026 21:00 WIB
Ilustrasi. Katanya, jika jarang ganti celana dalam bisa terkena infeksi saluran kemih. (iStockphoto/Eziutka)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jarang mengganti celana dalam dan membiarkannya lembap seharian kerap dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada perempuan.

Melansir Biology Insights, infeksi saluran kemih terjadi ketika bakteri masuk ke saluran kemih dan berkembang biak. Bagian yang paling sering terdampak adalah kandung kemih (sistitis).

Bakteri yang paling umum menjadi penyebab ialah Escherichia coli (E. coli), yang sebenarnya hidup normal di saluran pencernaan.

Perlu dipahami, celana dalam yang kotor tidak serta-merta menciptakan bakteri penyebab ISK. Namun, kebiasaan jarang menggantinya dapat menciptakan lingkungan hangat dan lembap di area genital, kondisi ideal bagi bakteri untuk berkembang.

Kelembapan bisa muncul akibat keringat, aktivitas fisik, atau penggunaan pakaian yang terlalu ketat. Dalam situasi ini, bakteri dari area anus lebih mudah berpindah ke uretra (saluran kencing). Jika sudah mencapai uretra dan berkembang biak, risiko ISK pun meningkat.

Mengutip Cleveland Clinic, perempuan lebih rentan mengalami ISK karena uretra mereka lebih pendek dan letaknya lebih dekat dengan anus. Kondisi anatomi ini membuat perpindahan bakteri menjadi lebih mudah terjadi.

Berapa kali idealnya ganti celana dalam?

Pertanyaan berikutnya, seberapa sering celana dalam perlu diganti?

Mengutip Theskimm, dokter spesialis obstetri dan ginekologi Taraneh Nazem menyarankan untuk mengganti celana dalam setidaknya sekali sehari. Langkah ini penting untuk menurunkan risiko infeksi, terutama infeksi jamur dan iritasi kulit.

Bagi Anda yang memiliki aktivitas tinggi, sering berkeringat, atau rutin berolahraga, mengganti celana dalam dua kali sehari dinilai lebih ideal. Celana dalam yang lembap setelah olahraga sebaiknya segera diganti, bukan dibiarkan mengering di tubuh.

Selain frekuensi, bahan pakaian dalam juga berperan penting. Bahan katun lebih disarankan karena mampu menyerap keringat dan memungkinkan sirkulasi udara lebih baik. Sebaliknya, bahan sintetis seperti nilon atau poliester cenderung menahan panas dan kelembapan.

Meski demikian, tidak semua orang yang jarang mengganti celana dalam otomatis terkena ISK. Menjaga kebersihan dan menghindari kelembapan berlebih adalah langkah sederhana yang bisa membantu menurunkan risiko.

Selain rutin mengganti celana dalam, beberapa cara berikut juga dapat membantu mencegah ISK:

• Mengelap dari depan ke belakang setelah menggunakan toilet untuk mencegah perpindahan bakteri dari anus ke uretra.

• Mandi dengan pancuran, bukan berendam terlalu lama.

• Menghindari produk kewanitaan yang keras atau beraroma kuat, seperti cairan pembersih vagina, semprotan, dan bedak.

• Menggunakan pakaian dalam yang menyerap keringat.

• Buang air kecil sebelum dan setelah aktivitas seksual.

Mengganti celana dalam minimal sekali sehari merupakan standar dasar kebersihan. Jika Anda termasuk orang yang aktif dan mudah berkeringat, dua kali sehari lebih dianjurkan.

Kebiasaan kecil yang kerap dianggap remeh ini ternyata bisa berdampak besar pada kesehatan saluran kemih dalam jangka panjang.

(nga/tis)


KOMENTAR

TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK