Salat Tarawih Bisa Gantikan Olahraga? Ini Kata Dokter
Gerakan salat kerap disebut-sebut setara dengan olahraga, terutama saat bulan Ramadhan ketika umat Muslim menjalankan salat tarawih hingga 11 atau 23 rakaat. Alasannya, gerakan dilakukan berulang dan melibatkan hampir seluruh bagian tubuh.
Mulai dari berdiri, rukuk, sujud, hingga duduk, seluruh rangkaian tersebut menggerakkan otot, sendi, serta melibatkan koordinasi tubuh. Namun, benarkah salat bisa disamakan dengan olahraga seperti lari, bersepeda, atau latihan beban?
Spesialis kedokteran olahraga Mayapada Hospital Tangerang, Febianto Nurmansyach, menjelaskan bahwa secara teknis terdapat perbedaan antara aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga.
Lihat Juga :#UstazTanyaDong Salat Jumat Datang Terlambat, Masih Sah atau Tidak? |
"Salat ini dikategorikan sebagai aktivitas fisik. Jadi segala sesuatu yang dilakukan oleh tubuh kita dan menghasilkan energi," kata Febianto, Rabu (5/3), seperti dikutip dari detikHealth.
Menurutnya, aktivitas fisik mencakup berbagai kegiatan sehari-hari, seperti menyapu, mengepel, atau berjalan kaki ke kantor. Sementara itu, olahraga dan latihan fisik memiliki struktur, intensitas, serta tujuan kebugaran tertentu yang dirancang secara khusus.
Manfaat gerakan salat bagi tubuh
Sejumlah sumber menyebutkan gerakan dalam salat melibatkan kontraksi dan peregangan otot secara bergantian. Rukuk, misalnya, membantu meregangkan otot punggung dan paha belakang. Sementara sujud melibatkan sendi bahu, siku, lutut, hingga pergelangan kaki.
Secara teori, gerakan yang dilakukan konsisten dapat membantu menjaga kelenturan sendi dan kekuatan otot, terlebih jika dilakukan dengan tuma'ninah atau tidak tergesa-gesa.
Gerakan takbir di awal salat juga membantu menggerakkan otot tangan dan bahu, sehingga meningkatkan aliran darah ke tubuh bagian atas. Adapun posisi duduk tasyahud dinilai memberi efek relaksasi karena melibatkan pergerakan sendi panggul, lutut, siku, pergelangan tangan, dan tulang belakang.
Dalam perspektif ortopedi, pergerakan sendi yang berulang membantu menjaga kesehatan jaringan tulang rawan (kartilago).
Jaringan ini tidak memiliki suplai darah langsung dan bergantung pada pergerakan sendi untuk memperoleh nutrisi serta oksigen. Kurangnya pergerakan dalam jangka panjang berisiko memicu kekakuan sendi.
Gerakan berulang dalam salat juga dapat menjadi bentuk latihan ringan bagi jantung karena membantu sirkulasi darah ke seluruh tubuh.
Febianto menyebut, sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas salat dapat memberikan manfaat kesehatan, terutama jika dilakukan secara rutin dalam durasi cukup panjang, seperti salat tarawih selama 30 hari berturut-turut.
"Kalau misalnya salat tarawih di situ jumlah rakaat banyak dan dilakukan konstan, misal rutin tiap hari dalam 30 hari, itu memang pasti memberikan dampak kesehatan," ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa penelitian juga menunjukkan gerakan salat dapat berdampak positif pada kesehatan kardiovaskular.
"Secara umum di beberapa penelitian itu sudah banyak yang menunjukkan bahwa aktivitas salat atau gerakan dalam salat itu bisa memberikan manfaat kesehatan dalam sisi psikologis, meningkatkan kardiovaskular, meningkatkan kesehatan jantung dan paru, kemudian juga meningkatkan kesehatan otot, tulang, dan persendian," kata Febianto.
Meski demikian, ia menegaskan salat tidak sepenuhnya dapat menggantikan olahraga terstruktur yang dirancang untuk meningkatkan daya tahan, kekuatan, maupun kebugaran secara spesifik.
Namun, sebagai aktivitas fisik yang dilakukan lima kali sehari, salat tetap berkontribusi terhadap pergerakan tubuh dan membantu menjaga mobilitas sendi, terutama bila dilakukan dengan gerakan yang benar dan tidak terburu-buru.
(nga/tis)