Dikira ISK, Pria 29 Tahun Ini Ternyata Kanker Usus

CNN Indonesia
Kamis, 05 Mar 2026 08:45 WIB
Pria 29 tahun di Bandung divonis kanker usus besar setelah sempat diduga ISK dan radang usus.
Ilustrasi. Pria ini sempat mengira dirinya terkena ISK, ternyata terkena kanker usus. (iStockphoto/ peterschreiber.media)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pria asal Bandung membagikan pengalamannya didiagnosis kanker usus besar di usia 29 tahun. Sebelumnya, ia sempat mengira keluhan yang dirasakannya hanya gangguan lambung biasa.

Kisah tersebut ia unggah di media sosial dan menarik perhatian publik.

Fredi mengaku mulai merasakan keluhan pada Mei 2025. Ia memang memiliki riwayat asam lambung. Namun, kali ini ada sensasi berbeda di bagian perut bawah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang aku punya riwayat sakit asam lambung, tapi pada bulan Mei 2025 ada yang terasa aneh di perut bagian bawah," ujar Fredi dalam unggahan video TikTok miliknya.

Keluhan tersebut mendorongnya memeriksakan diri ke puskesmas. Ia sempat menduga mengalami infeksi saluran kemih (ISK) atau radang usus.

Namun, hasil tes urine dinyatakan normal. Ia kemudian dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam dan dokter bedah di beberapa rumah sakit di Bandung.

"Cek darah dan USG, hasilnya normal," kata Fredi.

Meski demikian, rasa tidak nyaman di perut bagian bawah tetap ia rasakan. Fredi mengaku tidak puas dengan hasil pemeriksaan tersebut. Ia pun mulai mengingat kembali riwayat penyakit dalam keluarganya.

Beberapa bulan sebelumnya, kakaknya meninggal dunia akibat kanker. Selama proses perawatan sang kakak, Fredi mengaku banyak mencari informasi mengenai penyakit tersebut.

"Ada genetik yang cukup kuat dengan cancer ini. Pada akhirnya hinggap di kakak aku, dan ya, aku juga," ujarnya.

Ia juga menduga ayahnya yang meninggal karena sakit perut beberapa tahun lalu kemungkinan mengalami kondisi serupa, meski tidak pernah dipastikan secara medis.

Riwayat keluarga itulah yang kemudian ia sampaikan kepada dokter. Ia akhirnya dirujuk untuk menjalani kolonoskopi di rumah sakit lain di Bandung.

"Dan boom, ditemukan massa di usus besarku," katanya.

Setelah dilakukan biopsi, hasilnya menunjukkan bahwa massa tersebut bersifat ganas. Meski demikian, ukurannya disebut masih kecil. Pemeriksaan lanjutan melalui CT scan mengonfirmasi adanya massa di titik yang sama.

Usai diagnosis, Fredi dirujuk ke dokter hematologi-onkologi untuk menjalani kemoterapi. Ia menyebut telah menjalani beberapa siklus kemoterapi hingga awal 2026.

Ia mengakui kondisi mentalnya sempat terguncang. Berbagai pikiran negatif bermunculan setelah mengetahui dirinya mengidap kanker di usia muda.

"Semua pertanyaan muncul di kepalaku yang berisik ini. Bagaimana kalau ini, kalau itu," ujarnya.

Namun, ia berusaha tidak berlarut dalam kesedihan. Fredi tetap bekerja, menerima berbagai pekerjaan, serta mengalihkan pikirannya dengan aktivitas seperti menonton film di bioskop, menikmati makanan favorit, hingga berenang.

Kanker usus besar memang tidak selalu diawali gejala berat. Pada tahap awal, keluhan bisa menyerupai gangguan pencernaan biasa, seperti nyeri perut ringan atau rasa tidak nyaman yang tidak spesifik. Karena itu, perubahan gejala yang terasa berbeda dari biasanya, terutama jika disertai riwayat keluarga kanker, perlu mendapat perhatian lebih dan pemeriksaan lanjutan.

(nga/tis)


[Gambas:Video CNN]