Tak Selalu Sama, Kenali Ciri Keputihan Normal hingga Tanda Penyakit

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 00:30 WIB
Meski ini adalah kondisi normal bagi kaum perempuan, keputihan juga bisa menjadi tanda gangguan kesehatan jika disertai perubahan tertentu.
Ilustrasi. Meski ini adalah kondisi normal bagi kaum perempuan, keputihan juga bisa menjadi tanda gangguan kesehatan jika disertai perubahan tertentu. (iStockphoto/Teerasak1988)
Jakarta, CNN Indonesia --

Keputihan adalah kondisi yang umum dialami oleh perempuan. Meski demikian, tak sedikit perempuan yang merasa khawatir ketika mengalami keputihan, terutama jika volumenya banyak atau terjadi lebih sering dari biasanya.

Sebenarnya, kapan keputihan masih dianggap normal dan kapan kondisi ini perlu diwaspadai?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir dari Direktorat Jenderal Kesehatan, Kementerian Kesehatan, keputihan pada dasarnya adalah proses fisiologis yang normal. Cairan keputihan membantu menjaga kelembapan vagina serta melindunginya dari kuman penyebab infeksi.

Keputihan normal biasanya muncul pada waktu tertentu, misalnya menjelang atau setelah menstruasi serta saat masa subur. Warna cairannya umumnya jernih atau putih susu, tidak berbau menyengat, dan teksturnya bisa berubah-ubah, mulai dari cair hingga agak lengket.

Jumlah cairan yang keluar pun dapat dipengaruhi oleh perubahan hormon. Kondisi seperti ovulasi, kehamilan, menyusui, penggunaan pil kontrasepsi, hingga stres dapat membuat produksi keputihan meningkat.


Tanda keputihan yang perlu diwaspadai

Dikutip dari Cleveland Clinic, meski ini adalah kondisi normal bagi kaum perempuan, keputihan juga bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan jika disertai perubahan tertentu.

Beberapa tanda keputihan yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Cairan berwarna kuning, hijau, atau abu-abu
  • Bau tidak sedap atau amis
  • Tekstur sangat kental, berbusa, atau menggumpal
  • Disertai rasa gatal, perih, atau iritasi di area vagina
  • Muncul nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual


Untuk cairan yang berwarna cokelat atau kemerahan sering kali berkaitan dengan menstruasi atau kehamilan. Perubahan warna, bau, maupun tekstur keputihan dapat menandakan adanya infeksi pada vagina, baik infeksi jamur, bakteri, maupun infeksi menular seksual.

Sebagai contoh, infeksi jamur biasanya menghasilkan cairan putih kental menyerupai keju. Sementara infeksi bakteri dapat menyebabkan keputihan berwarna abu-abu dengan bau amis.


Penyebab keputihan tidak normal

Keputihan yang tidak normal umumnya dipicu oleh infeksi atau kebiasaan tertentu yang mengganggu keseimbangan bakteri di vagina. Berikut beberapa faktor yang dapat memicu kondisi ini :

  • Kurang menjaga kebersihan area kewanitaan.
  • Menggunakan pakaian dalam terlalu ketat atau berbahan sintetis.
  • Membilas vagina dari arah belakang ke depan.
  • Terlalu sering menggunakan sabun atau produk pembersih berpewangi.
  • Kebiasaan melakukan vaginal douche atau menyemprotkan cairan pembersih ke dalam vagina.
  • Penyakit tertentu seperti diabetes atau infeksi menular seksual.

Selain itu, penggunaan obat tertentu seperti pil kontrasepsi dan kortikosteroid juga dapat memengaruhi keseimbangan flora normal di vagina.

Mengalami keputihan memang kondisi yang wajar dan tidak selalu menandakan penyakit. Namun, jika terjadi perubahan warna, bau, atau disertai keluhan lain seperti gatal dan nyeri, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

(anm/fef)


[Gambas:Video CNN]