LAPORAN DARI PARIS

'Le Smoking' Jadi Arsitektur Mode Karya Teranyar Anthony Vacarello

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Jumat, 06 Mar 2026 10:15 WIB
Saint Laurent memamerkan koleksi musim gugur karya Anthony Vaccarello di Paris Fashion Week. (Arsip Saint Laurent)
Jakarta, CNN Indonesia --

Paris Fashion Week dibuka minggu ini di tengah gejolak dunia yang tak hanya berpengaruh pada ekonomi global, tetapi juga pada jutaan jiwa yang menggantungkan nasibnya pada industri kreatif.

Salah satu pembuka pekan mode terpenting ini adalah Saint Laurent. Koleksi musim gugur 2026/2027 karya Anthony Vaccarello hadir sebagai penyusunan ulang fondasi Saint Laurent.

Dipresentasikan di Trocadéro dengan latar Menara Eiffel, peragaan ini sekaligus menandai dua momen penting: sepuluh tahun Vaccarello memimpin rumah mode tersebut, dan 60 tahun Le Smoking, jas perempuan paling berpengaruh dalam sejarah mode modern.

Dari awal, pesan koleksi ini terlihat jelas, bahwa tailoring adalah bahasa utama Saint Laurent. Setelan jas tampil bersih, nyaris asketis, dengan bahu tegas, pinggang yang terdefinisi, dan proporsi memanjang yang merujuk akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Namun, ini bukanlah power dressing yang karikatural.

Vaccarello mendesain koleksi yang terlihat menjauh dari simbol kekuasaan yang klise. Ia menggantinya dengan otoritas yang lebih subtil, yakni kekuatan yang lahir dari konstruksi, bukan hanya dengan dekorasi dan hiasan, yang sayangnya kerap dipakai desainer yang ingin menyembunyikan kemampuan desain mereka yang biasa saja.

Kontras utama koleksi ini terletak pada dialog antara dua elemen yang tampak bertolak belakang, yakni setelan dan renda.

Di koleksi ini, Le Smoking dipasangkan dengan lace transparan yang diproses, diperkeras dengan silikon atau lateks, lalu dijahit seperti jaket kardigan atau rok lurus. Renda tidak lagi sekadar simbol kelembutan, melainkan material struktural yang berbicara tentang kerentanan sebagai bentuk kekuatan.

Jika dikenakan di malam hari, jas tidak lagi menjadi pernyataan dominasi, melainkan medium intensitas yang rapuh sekaligus tegas.

Secara historis, jaket 'smoking' dikenakan oleh pria untuk melindungi pakaian mereka dari bau asap di ruang merokok. Orang Prancis mengadopsi ini, menyebut tuksedo formal hanya sebagai 'smoking'.

'Le Smoking' karya Yves Saint Laurent dinamai berdasarkan istilah Prancis untuk tuksedo atau jas makan malam, yang berasal dari jas yang dikenakan pria di ruang merokok abad ke-19. Mengadaptasi pakaian formal maskulin yang beraroma tembakau ini menjadi setelan malam yang revolusioner dan dirancang khusus untuk wanita.

Peringatan 60 tahun Le Smoking memberi bobot historis yang signifikan. Ketika Yves Saint Laurent memperkenalkannya pada 1966, hanya satu potong saja yang terjual. Namun, dampaknya melampaui angka penjualan.

Saint Laurent memamerkan koleksi musim gugur karya Anthony Vaccarello di Paris Fashion Week. (Arsip Saint Laurent)

Jas tersebut mengubah relasi perempuan dengan pakaian maskulin dan menjadi simbol pembongkaran konstruksi gender. Saint Laurent pernah berkata bahwa Le Smoking 'membuat perempuan lebih berkuasa'. Skandal juga muncul kala itu ketika Françoise Hardy mengenakannya ke opera Paris; kemarahan publik justru menegaskan kekuatan politis busana ini.

Di balik revolusi tersebut berdiri Pierre Bergé, pasangan hidup dan mitra bisnis Saint Laurent. Relasi mereka sering dibaca sebagai keseimbangan antara visi artistik dan ketegasan institusional.

Bergé memastikan keberanian kreatif Saint Laurent dapat bertahan secara ekonomi dan struktural. Ketegangan produktif antara kebebasan dan disiplin inilah yang terasa dihidupkan kembali oleh Vaccarello sejak ia mendesain untuk rumah mode ini: Saint Laurent yang sensual, namun terkendali.

Secara visual, koleksi ini diperkuat oleh ruang modernis berdinding kayu dengan jendela kaca penuh, membingkai kota Paris seperti potongan film Antonioni.

Replika bust patung klasik, sebuah artefak yang pernah berada di rumah pribadi Saint Laurent dan Bergé, diletakkan di tengah ruang sebagai pengingat bahwa mode Saint Laurent selalu berangkat dari tubuh nyata, dan bukan didesain untuk berakhir di museum. Detail artistik seperti vas monumental karya Jean Dunand berfungsi sebagai jangkar sejarah, tanpa terjebak romantisisme.

Konteks global juga turut membayangi peragaan ini, meski koleksi-koleksi yang ditampilkan di minggu ini dibuat sejak berbulan-bulan lalu. Paris Fashion Week tetap berlangsung di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi. Pascal Morand, Presiden Eksekutif Fédération de la Haute Couture et de la Mode, institusi yang mengatur Paris Fashion Week, menegaskan sikap tersebut.

"Tidak ada pembatalan, tidak ada perubahan," ujarnya saat jumpa pers di awal pekan.

Pernyataan ini menegaskan posisi mode Paris sebagai kekuatan kultural sekaligus ekonomi, yang dalam sejarahnya hanya pernah absen ketika perang dunia kedua pecah di tahun 1944-1945.

Di sisi bisnis, pasar mewah memang melandai. Pendapatan tahunan Saint Laurent tahun lalu dilaporkan sekitar 2,6 miliar euro, turun sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, rumah mode ini tetap menjadi salah satu ekspor budaya terbesar Prancis, dengan daya tarik yang relatif stabil.

Dan, koleksi ini menunjukkan bahwa Vaccarello memilih konsistensi sebagai bentuk keberanian. Le Smoking tidak direvolusi secara radikal, melainkan diasah hingga esensinya kembali tajam.

Dalam lanskap global yang gaduh, Saint Laurent berbicara dengan nada rendah. Namun, presisi arsitekturalnya membuat setiap siluet terasa relevan, kini dan nanti.

(asr/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK