Niat Puasa Dibaca Setelah Maghrib atau Saat Sahur? Ini Jawabannya
Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat atau mukallaf. Dalam pelaksanaannya, puasa memiliki beberapa rukun yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah. Salah satu rukun paling mendasar adalah niat.
Namun, pertanyaan yang sering muncul setiap Ramadan adalah, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk membaca niat puasa? Apakah cukup sekali di awal Ramadan atau harus setiap malam?
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi, yang menjelaskan berbagai persoalan ibadah selama bulan suci, termasuk soal niat puasa.
Lihat Juga : |
Waktu niat puasa menurut mazhab Syafi'i
Mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti mazhab Syafi'i. Dalam pandangan mazhab ini, niat puasa Ramadan harus dilakukan setiap malam.
Waktunya dimulai sejak setelah salat Maghrib hingga sebelum masuk waktu Subuh. Artinya, seseorang boleh membaca niat kapan saja pada rentang waktu tersebut, selama belum terbit fajar.
Niat puasa pada dasarnya dilakukan di dalam hati. Mengucapkannya dengan lisan hukumnya sunnah untuk membantu meneguhkan niat tersebut.
Selain itu, niat juga harus bersifat ta'yin, yakni menentukan jenis puasanya. Misalnya dengan niat puasa Ramadhan untuk esok hari karena Allah.
Apakah sah jika hanya sahur tanpa niat?
Sahur sering kali dianggap sebagai tanda seseorang akan berpuasa. Namun dalam kajian fikih, sahur tidak otomatis dianggap sebagai niat.
Sahur baru bisa dianggap sebagai niat jika dalam hati seseorang memang terlintas keinginan untuk berpuasa. Jika seseorang makan sahur tanpa niat berpuasa, maka sahurnya tidak dapat menggantikan niat.
Karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memastikan bahwa dalam hati sudah terbesit niat menjalankan puasa sebelum waktu Subuh tiba.
Perbedaan pendapat empat mazhab
Dalam kitab Al-Fiqh 'ala Mazahib al-Arba'ah karya Syekh Abdurrahman Al-Jaziri dijelaskan bahwa empat mazhab fikih memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai waktu niat puasa.
Mazhab Syafi'i dan Hambali menyatakan bahwa niat puasa wajib dilakukan setiap malam, dimulai dari Maghrib hingga sebelum terbit fajar.
Sementara itu, mazhab Hanafi memberikan kelonggaran. Jika seseorang lupa berniat pada malam hari, ia masih diperbolehkan berniat setelah Subuh hingga sebelum pertengahan siang, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Adapun mazhab Maliki memiliki pendapat yang cukup berbeda. Mazhab ini membolehkan niat puasa Ramadan dilakukan sekali saja pada malam pertama Ramadan untuk seluruh hari puasa selama satu bulan.
Pendapat tersebut dianggap sebagai bentuk kemudahan bagi umat Islam, sekaligus upaya menjaga kehati-hatian apabila seseorang lupa berniat di malam berikutnya.
Karena niat merupakan rukun puasa, maka meninggalkannya dapat membuat puasa menjadi tidak sah. Oleh karena itu, para ulama umumnya menganjurkan untuk tetap membaca niat setiap malam.
Namun, untuk kehati-hatian, seseorang juga boleh mengikuti pendapat mazhab Maliki dengan meniatkan puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadan.
Setelah itu, niat tetap bisa diperbarui setiap malam sebagai bentuk penguatan ibadah.
Dengan cara tersebut, umat Islam tetap menjalankan puasa dengan lebih tenang sekaligus mengikuti prinsip kehati-hatian dalam ibadah.
Lihat Juga :#UstazTanyaDong Ngabuburit Sambil Pacaran, Hati-hati Pahala Jadi Minus |
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)