Lembutkan Hati dengan Meninggalkan Dosa & Menerima Nasihat Baik
Hanya ada satu cara untuk memiliki kelembutan hati, yaitu dengan meninggalkan dosa. Dengan hati yang lembut, seseorang bisa menerima nasihat baik dan khusyuk dalam menerima nasihat tersebut.
"Dosa itu membuat hati kita keras, tidak lembut, tapi kalau meninggalkan dosa, itu akan menjadi lembut," ucap ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia.
Lihat Juga :Kultum Kemuliaan Ramadan Memuji Allah SWT Lebih Utama daripada Meminta, Ini Alasannya |
Hati yang keras, kata Ma'ruf, bisa jauh lebih keras dari batu. Setangguh dan sekeras apa pun sebuah batu, ia bisa berlubang jika secara konstan ditetesi air. Namun hati yang keras sulit untuk dilembutkan.
"Itu juga karena pengaruh hawa nafsu. Ada titik noda hitam yang ada di dalam hatinya, sehingga hatinya itu menjadi keras," ujar Ma'ruf. Hati yang keras akibat banyak berbuat dosa, membuat seseorang sulit berubah dan menerima nasihat.
Selain soal hati, Ma'ruf juga menyebutkan pikiran yang jernih bisa didapat dari mengonsumsi makanan dan minuman yang halal. Oleh karena itu, kita harus meninggalkan apa pun yang haram, baik itu makanan dan minuman.
Ma'ruf menjelaskan, baik makanan halal maupun haram bisa memiliki bentuk atau zat. Misalnya, zat yang diharamkan, antara lain bangkai, darah, juga daging babi.
Tak hanya dari zatnya, sesuatu yang haram juga bisa dari proses pengolahannya. Misalnya, daging yang tidak dipotong sesuai syariat, sekalipun zatnya halal, maka ia akan menjadi haram.
"Atau dia bercampur antara yang haram dan yang halal. Makanan haram dan halal campur, maka dia menjadi haram semua," kata Ma'ruf.
Halal atau haramnya sebuah makanan juga ditentukan dari bagaimana cara ia diperoleh. Agar sesuatu menjadi halal, cara memperolehnya harus sesuai dengan syariat.
"Makanya dianjurkan untuk kita di dalam bertransaksi ekonomi, menggunakan ekonomi yang masyru'ah atau ekonomi syariah. Yang kalo tidak, itu nanti menjadi haram," kata Ma'ruf lagi.
Mengutip Syekh Nawawi al-Bantani, Ma'ruf mengungkapkan makanan yang haram akan menimbulkan akal yang tidak bersih, sehingga seseorang sulit mengambil pelajaran dan keputusan yang benar.
Sebuah hadis sahih juga mengingatkan, makanan haram yang dikonsumsi akan menumbuhkan sesuatu yang buruk dalam diri seseorang, bahkan layak mendapatkan neraka dunia.
Oleh karena itu, menjaga kehalalan makanan dan minuman sangat penting untuk menjaga kejernihan pikiran dan kelembutan hati.
Dalam konteks puasa bulan Ramadhan, menahan diri tidak hanya dari makanan haram tetapi juga dari yang halal. Jika kita terlatih menahan diri tidak mengambil atau melakukan yang halal, maka kita akan lebih mudah menghindari yang haram.
(rti)