Memuji Allah SWT Lebih Utama daripada Meminta, Ini Alasannya

CNN Indonesia
Selasa, 03 Mar 2026 04:00 WIB
Ada perbedaan antara orang yang memuji Allah SWT dan yang sekadar meminta kepada-Nya. Apa itu?
Ilustrasi. Ada perbedaan antara orang yang memuji Allah SWT dan yang sekadar meminta kepada-Nya. (iStockphoto/Enes Evren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Orang yang keinginannya di dunia hanya memuji Allah SWT dan berharap lebih dekat dengan-Nya, akan mendapat lebih banyak berkah ketimbang orang yang berdoa untuk meminta sesuatu untuk dirinya.

"Jadi kalau orang [yang] meminta, Allah akan kasih sekian. Orang yang enggak minta, tetapi dia memuji Allah, itu pahalanya atau pemberiannya akan lebih besar," ujar ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia, Sabtu (1/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut Ma'ruf menjelaskan perbedaan antara orang arif dan orang zahid. Orang arif hanya memiliki satu cita-cita atau keinginan dalam hidupnya, yakni memuji Allah dengan keindahan sifatnya. Tak ada hal lain yang ia inginkan, selain dekat dengan Allah.

"Maha suci allah, Subhanallah. Segala puji bagi allah, Alhamdulillah. Allahu Akbar, allah maha besar," ucap Ma'ruf mencontohkan beberapa bentuk pujian bagi Allah.

Di sisi lain ada pula orang zahid. Orang yang zahid cenderung berpaling atau menghindar dari hal berlebihan. Ia mengambil hal sekadarnya di dunia ini sesuai dengan yang dibutuhkannya saja.

Namun ada perbedaan mendasar antara orang arif dan zahid dalam membangun hubungannya dengan Allah. Keinginan orang arif hanya memuji Allah, sedangkan orang zahid masih meminta sesuatu kepada Allah.

Orang arif tidak mengharapkan pahala ataupun surga. Ia mengharapkan keridaan dan kecintaan dari Allah, termasuk diangkatnya tabir agar tidak ada penyekat antara dirinya dengan Allah. Di sisi lain, orang zahid masih meminta pahala dan surga, alias meminta manfaat untuk dirinya sendiri.

"Jadi kalau ada orang yang berdoa bahwa 'Saya tidak minta surga-Mu, tidak takut pada neraka-Mu, tapi minta keridaan-Mu,' nah itulah orang arif itu," tutur Ma'ruf.

Perihal orang arif, kata Ma'ruf, tertera di dalam hadis qudsi, yakni wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad tanpa perantara malaikat. Bunyi hadis tersebut kira-kira, "Siapa yang dia sibuk memuji Saya, dibanding dengan meminta kepada Saya, Saya akan beri dia lebih daripada permintaan orang yang meminta."

Inilah mengapa orang arif bisa mendapatkan derajat lebih tinggi di mata Allah SWT. Ma'ruf pun mencontohkan sifat arif melalui kisah Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim AS hendak dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud dan kaumnya karena menghancurkan berhala, Malaikat Jibril datang dan memberikannya pertanyaan, "Apakah engkau butuh pada saya?"

Nabi Ibrahim menjawab, ia tak membutuhkan malaikat jibril, tetapi Allah. Namun Nabi Ibrahim juga tidak mengajukan permintaan kepada Allah, karena dengan Allah mengetahui bagaimana kondisinya, ia tak merasa perlu untuk meminta lagi.

Akhirnya, tanpa harus diminta, Allah memerintahkan api menjadi dingin dan Nabi Ibrahim terselamatkan oleh perintah-Nya.

"Itulah orang yang sudah arif, tidak mau meminta. Dia hanya menyerahkan sesuatu kepada Allah, hanya memuji dan memuji," ucap Ma'ruf menutup sesi kultum.

(rti)


[Gambas:Video CNN]