Belajar Mendalami Islam di Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal TMII
Bagi sebagian orang, bulan suci Ramadan menjadi momen untuk meningkatkan pemahaman tentang Islam, termasuk kitab suci Al-Qur'an.
Di Jakarta, terdapat museum bersejarah untuk mengenal lebih dalam Al-Qu'ran. Lokasinya di Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal (BQMI), yang keduanya menjadi satu kesatuan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Sama seperti namanya, museum ini adalah tempat untuk memperkaya ilmu tentang mushaf. "Bayt Al-Qur'an" menegaskan bahwa Al-Qur'an Adalah kitab suci yang menjadi penunjuk arah umat Muslim. Sementara Museum Istiqlal berdiri untuk menggambarkan pelaksanaan nilai-nilai Qur'ani di Nusantara.
Kedua bangunan ini menjadi saksi sejarah panjang perkembangan Islam di Indonesia. Melansir situs resmi BQMI Kemenag, Presiden RI Soeharto meresmikan Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal (BQMI) pada 20 April 1997. Dibangun di atas tanah wakaf sang istri, Tien Soeharto.
Cerita ini mundur ke tahun 1994, ketika Presiden Soeharto menerima hadiah dari Menteri Agama RI Tarmizi Taher. Presiden Soeharto mendapat sebuah mushaf Al-Qur'an dengan ukuran sangat besar, hadiahnya itu berasal dari Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, Jawa Tengah.
Pada tahun 1995, penulisan Al-Qur'an Mushaf Istiqlal yang ditulis sejak tahun 1991 telah selesai. Presiden Soeharto meresmikan mushaf dengan ukuran besar yang dihiasi dengan ornamen memukau di setiap halamannya. Sejak saat itu, tercetus ide oleh Tarmizi Taher untuk mendirikan Bayt Al-Qur'an yang artinya "Rumah Al-Qur'an".
Pembangunan ini dimaksudkan untuk menghimpun, menyimpan, memelihara, dan memamerkan mushaf dengan berbagai bentuk, jenis, dan asal dari seluruh Indonesia.
Tien Soeharto kemudian mendukung ide tersebut, kemudian ia mewakafkan satu hektar tanahnya yang berda di kompleks TMII.
Di tahun yang sama, seusai Festival Istiqlal II yang memamerkan benda kebudayaan Islam dari berbagai daerah Indonesia, banyak benda yang tidak dibawa kembali ke daerah asal.
Muncul lagi ide untuk membangun Museum Istiqlal, gunanya untuk menghimpun benda bersejarah kebudayaan Islam dari berbagai daerah, termasuk benda yang tidak dibawa dari Festival Istiqlal II.
Jadi, awalnya hanya dibangun satu gedung pada tahun 1996, tetapi akhirnya dikembangkan menjadi dua gedung sekaligus untuk digabung menjadi satu kesatuan. Pembangunannya resmi selesai pada tahun 1997, menghadirkan Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal.
Hari ini, Bayt Al-Qur'an menyimpan berbagai khazanah Al-Qur'an. Terdapat mushaf manuskrip yang ditulis tangan, mushaf cetakan, mushaf braille, mushaf isyarat, terjemahan Al-Qur'an dari berbagai bahasa, manuskrip tafsir Al-Qur'an, dan khazanah budaya.
Ada pula aneka ragam mushaf indah dengan keunikannya masing-masing, seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Pusaka, Mushaf Wonosobo, sampai Mushaf Istanbul. Menariknya lagi, kini pengunjung bisa mencoba media interaktif yang dapat membuka lembaran Mushaf Istiqlal digital dengan lambaian tangan saja.
Sementara di Museum Istiqlal, kebanyakan koleksinya berasal dari objek peninggalan Festival Istiqlal II. Terdapat manuskrip keagamaan seperti naskah fikih, tafsir, terjemahan, dan hikayat religi. Ada pula replika nisan, dokumentasi masjid kuno, kaligrafi, tekstil, hingga karya seni.
BQMI yang dibangun atas empat lantai ini juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas, di antaranya masjid, main hall, sinema, auditorium, ruang pertemuan, ruang kelas, hingga kids corner.
Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal sebagai salah satu museum di Jakarta menjadi tempat belajar untuk mendukung pendidikan karakter generasi penerus masa depan. Pendidikan karakter itu didapatkan dari koleksi, materi, dan pemandu di museum.
(ana/wiw)