Isfahan, Kota Bersejarah Iran yang Dikaitkan dengan Kemunculan Dajjal

CNN Indonesia
Jumat, 06 Mar 2026 07:00 WIB
Isfahan di Iran dikenal sebagai kota bersejarah dengan arsitektur megah, sekaligus disebut dalam hadis sebagai lokasi kemunculan Dajjal.
Ilustrasi. Kota Ishfahan jadi salah satu kota yang cukup terkenal di Iran. (iStockphoto/guenterguni)
Jakarta, CNN Indonesia --

Isfahan merupakan kota terbesar ketiga di Iran yang belakangan ikut terdampak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Di balik kontroversi dan konflik yang menyertainya, kota ini menyimpan sejarah panjang dan dalam terkait tradisi Islam bahkan disebut sebagai salah satu tempat yang dikaitkan dengan kemunculan Dajjal di akhir zaman.

Terletak di wilayah Iran tengah, Isfahan berdiri di tepi Sungai Zayandeh. Kota ini terkenal dengan arsitektur megah, warisan sejarah yang kaya, serta perannya sebagai pusat industri Iran, khususnya di sektor manufaktur pertahanan dan program nuklir.

Setelah Teheran dan Mashhad, Isfahan menjadi kota terbesar ketiga di negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak sejarah panjang Isfahan juga terkait dengan komunitas Yahudi yang telah hadir di kawasan ini sejak sekitar 2.500 tahun lalu. Setelah Revolusi Islam 1979, sebagian besar warga Yahudi di Isfahan memilih bermigrasi.

Namun, sebagian lainnya tetap tinggal sebagai kelompok minoritas bersama komunitas Kristen dan Zoroaster.

Dalam catatan sejarah, kota ini pada awalnya dikenal dengan nama Gabae pada masa Kekaisaran Achaemenid, sekitar 559-330 sebelum masehi. Pada abad ke-5, Ratu Shushan-Dukht, istri Raja Sasanian yang beragama Yahudi, diketahui pernah menetap di wilayah tersebut.

Pada tahun 642 masehi, kota ini ditaklukkan oleh bangsa Arab dan kemudian dikenal dengan nama Isfahan. Di bawah kekuasaan Arab, kota ini menjadi ibu kota provinsi Al-Jibal, wilayah strategis di Iran saat itu.

Memasuki abad ke-10, kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah mulai melemah. Posisi tersebut kemudian digantikan oleh Dinasti Buyid yang membawa kemakmuran baru bagi Isfahan. Perkembangan kota semakin pesat ketika penakluk Turki, Toghril Beg, mendirikan Dinasti Seljuk pada abad ke-11 dan menjadikan Isfahan sebagai ibu kota pemerintahannya.

Setelah runtuhnya kekuasaan Seljuk, Isfahan kembali mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan Shah Abbas I dari Dinasti Safavid pada 1598. Pada masa ini, Isfahan berkembang menjadi salah satu kota terindah di dunia pada abad ke-17.

Banyak bangunan dan karya arsitektur megah yang masih berdiri hingga kini berasal dari periode tersebut.

Namun kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Pada 1772, pasukan Afghanistan berhasil mengalahkan tentara Persia dan mengepung Isfahan dalam waktu lama. Peristiwa ini mengakhiri masa keemasan kota tersebut, meninggalkan kehancuran serta penurunan populasi yang drastis.

Pemulihan Isfahan mulai terjadi pada masa pemerintahan Reza Shah Pahlavi di awal abad ke-20. Kota ini kembali dibangun, perekonomiannya bergerak, dan perlahan berkembang menjadi salah satu pusat industri penting di Iran.

Seiring perkembangan tersebut, Isfahan juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas strategis, termasuk Pusat Teknologi Nuklir Isfahan (INTC) yang mulai beroperasi sejak 1999 dengan beberapa fasilitas nuklir di dalamnya.

Kini Isfahan dikenal dengan julukan 'Nesf-e Jahan' dalam bahasa Persia, yang berarti 'setengah dunia'. Julukan ini mencerminkan reputasi kota tersebut sebagai pusat seni, perdagangan, serta intelektual Islam yang kaya akan warisan budaya dan arsitektur.

Salah satu ikon kota ini adalah Grand Bazaar of Isfahan, yang dikenal sebagai salah satu pasar tradisional tertua di Timur Tengah. Selain itu, alun-alun Naqsh-e Jahan Square atau Imam Square juga menjadi situs penting yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini dikelilingi sejumlah bangunan bersejarah seperti Masjid Shah, Masjid Sheikh Lotfollah, dan Istana Ali Qapu.

Selain dikenal karena sejarah dan arsitekturnya, Isfahan juga disebut dalam hadis riwayat Muslim. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan selendang atau pakaian khas yang disebut thayalisah.

(ana/tis)


[Gambas:Video CNN]