IDAI Tanggapi Gerakan Anti-Vaksin Campak: Orang Tua Jangan Egois

anm | CNN Indonesia
Senin, 16 Mar 2026 09:30 WIB
Di tengah munculnya gerakan anti-vaksin di masyarakat, IDAI menegaskan imunisasi tetaplah cara paling efektif untuk melindungi anak.
Ketua IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso dalam vaksinasi campak massal di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3). (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus campak di Indonesia kembali memunculkan perdebatan soal vaksinasi. Di tengah munculnya berbagai keraguan hingga gerakan anti-vaksin di masyarakat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan imunisasi tetaplah cara paling efektif untuk melindungi anak.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menilai keraguan masyarakat terhadap vaksin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi turunnya cakupan imunisasi campak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Indonesia, saya kira yang paling jelas adalah memang keraguan masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anaknya," kata Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Ia menegaskan, vaksinasi bukan sekadar anjuran medis, melainkan langkah pencegahan berbasis ilmu pengetahuan yang telah melalui proses penelitian panjang. Tujuan utamanya memberikan kekebalan tubuh tanpa harus membuat seseorang sakit terlebih dahulu.

Menurutnya, tidak masalah jika ada orang yang ingin mendapatkan kekebalan secara alamiah. Namun cara tersebut berarti seseorang harus terlebih dahulu mengalami sakit sebelum tubuhnya kebal terhadap penyakit.

"Nah kalau kita inginnya, karena kita dikasih akal oleh Allah, kita ingin kebalnya, tidak mau sakitnya. Makanya virus campak itu diproses oleh para ahli di laboratorium, dibuat lemah, kemudian disuntikkan. Dia dapat kebalnya, tidak dapat sakitnya. Itu inti dari vaksinasi sebetulnya," tutur Piprim.

Sejarah panjang praktik vaksinasi

Piprim juga menyinggung praktik vaksinasi sebenarnya memiliki sejarah panjang. Bahkan, menurutnya, konsep vaksin sudah dikenal sejak lama dalam tradisi masyarakat Muslim.

"Tradisi vaksinasi, penemuan vaksinasi cacar, itu dulu dari masyarakat Turki, Usmani. Kemudian diadopsi oleh istri Dubes Inggris, kemudian diteliti lebih jauh oleh Edward Jenner, dikembangkan jadi vaksin cacar yang pertama," Piprim menjelaskan.

Menurutnya, imunisasi bukan hanya melindungi anak yang divaksin, tetapi juga melindungi anak-anak lain yang lebih rentan terhadap penyakit. Misalnya, anak dengan kondisi kesehatan tertentu yang justru tidak dapat menerima vaksin.

"Kalau kena anak-anak kita yang gizinya jelek, malnutrisi, anak-anak kita yang kena penyakit kronik, penyakit jantung bawaan, kena penyakit-penyakit ginjal yang kena steroid, itu anak-anak harus dilindungi oleh lingkungannya," ujar Piprim.

Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk kembali fokus pada tujuan utama, yakni menjaga kesehatan anak.

"Jadi, ayolah sama-sama para orang tua semuanya, ayo kembali, fokus kita satu, jaga kesehatan anak-anak Indonesia. Jangan egois, karena bisa jadi ketika kita menolak vaksinasi, anak-anak kitalah yang sumber penularan dari virus campak ini," katanya.

Baca halaman selanjutnya...

Add as a preferred
source on Google
Pandangan Orang Tua Soal Vaksin Campak BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2