Perempuan yang Sering Menahan Emosi Rentan Autoimun, Benarkah?

CNN Indonesia
Senin, 16 Mar 2026 07:00 WIB
Perempuan yang sering menahan emosi dan jarang menangis disebut lebih rentan terkena penyakit autoimun. Benarkah demikian?
Ilustrasi. Belakangan ramai bahasan mengenai perempuan yang sering menahan emosi dan jarang menangis disebut lebih rentan terkena penyakit autoimun. (iStock/bymuratdeniz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan ramai di media sosial membahas klaim bahwa perempuan yang sering menahan emosi, jarang menangis, atau terbiasa memendam kemarahan disebut lebih rentan terkena penyakit autoimun.

Hal ini banyak dibagikan dalam bentuk pengalaman pribadi maupun konten kesehatan populer. Namun, benarkah emosi yang dipendam dapat memicu penyakit autoimun? Sejumlah ahli menyebut hubungan antara stres, emosi, dan sistem kekebalan tubuh memang ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip dari The Independent, sebuah penelitian tahun 2020 menemukan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit autoimun dibanding laki-laki, yaitu hampir 80 persen.

Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Beberapa contoh penyakit autoimun yang cukup dikenal antara lain lupus, rheumatoid arthritis, dan multiple sclerosis.

Mengutip dari Harvard Health Publishing, penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara stres dengan meningkatnya risiko penyakit autoimun.

Dalam penelitian tersebut, orang yang sebelumnya didiagnosis mengalami gangguan terkait stres diketahui memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk didiagnosis penyakit autoimun dibanding mereka yang tidak memiliki gangguan stres.

Stres sendiri merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan fisik, emosional, atau psikologis. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan memicu respons yang membuat hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan.

Jika stres terjadi terus menerus, kondisi ini dapat memicu peradangan kronis serta memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Dalam kajian psikologi, terdapat konsep self silencing atau kecenderungan seseorang untuk menekan emosi demi menjaga hubungan atau menghindari konflik.

Menukil dari Time, konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Dana Jack pada akhir tahun 1980-an. Ia menemukan, sebagian perempuan memiliki pola perilaku menahan emosi, memprioritaskan orang lain, hingga menghindari konflik.

Sebuah penelitian dari University of Pittsburgh menemukan, kemarahan yang dipendam pada perempuan berkorelasi dengan peningkatan risiko aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah sebesar 70 persen. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Ahli endokrinologi naturopati, Jolene Brighten menjelaskan bahwa menekan emosi, khususnya kemarahan yang mempengaruhi peningkatan stres, fungsi kekebalan tubuh yang tidak teratur, dan peradangan kronis dapat berkontribusi pada perkembangan atau memburuknya penyakit autoimun.

Hal tersebut ia temui dalam penelitian yang menunjukkan bahwa penekanan emosi dapat menyebabkan disfungsi sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat memperburuk kondisi seperti rheumatoid arthritis, lupus, dan multiple sclerosis.

Psikolog klinis, Sula Windgassen mengatakan bahwa kesehatan pada dasarnya bersifat biopsikososial, yaitu dibentuk oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.

"Ketika membahas kesehatan atau penyakit, kita harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut secara bersamaan, bukan secara terpisah," ujar Sula.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa menahan emosi bukanlah penyebab langsung penyakit autoimun.

Penyakit autoimun merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor termasuk genetika, hormon, infeksi, serta faktor lingkungan.

Dengan kata lain, stres atau emosi yang dipendam mungkin berperan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama penyakit autoimun.

Penelitian mengenai hubungan langsung antara emosi yang ditekan dan gangguan sistem imun juga masih terus berkembang.

Mengakui dan mengekspresikan emosi secara sehat dapat membantu mengurangi stres serta menjaga keseimbangan tubuh. Beberapa cara yang disarankan antara lain menulis jurnal, menjalani terapi psikologis, berolahraga, melakukan latihan pernapasan, hingga meditasi.

(nga/asr) Add as a preferred
source on Google