Masalah Kesehatan Melonjak Pasca-Lebaran, Keluhan Kolesterol Menumpuk

CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 21:00 WIB
Laporan hasil analisis Halodoc menemukan, konsultasi kesehatan biasa meningkat usai Lebaran. Didominasi oleh masalah kolesterol dan gula darah.
Ilustrasi. Laporan hasil analisis Halodoc menemukan, konsultasi kesehatan biasa meningkat usai Lebaran. (cegoh/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perayaan Idulfitri kerap diikuti lonjakan keluhan kesehatan. Konsumsi makanan berlemak, manis, dan tinggi karbohidrat selama Lebaran tak jarang berujung masalah kolesterol dan gula darah.

Hal tersebut terlihat dari hasil laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 yang dirilis oleh Halodoc. Laporan tersebut dibuat dari hasil analisis data kesehatan pengguna Halodoc selama periode Ramadan-Lebaran 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria mengatakan, masyarakat cenderung mulai memeriksa kondisi kesehatan mereka setelah menikmati berbagai hidangan khas Lebaran.

"Orang-orang yang berkonsultasi untuk melakukan tes kolesterol, tes gula darah itu meningkatnya hampir dua kali lipat di minggu pertama Lebaran," ujar Fibriyani dalam Halodoc Talks di Jakarta, Selasa (10/3).

Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi dampak pola konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.

Selain pemeriksaan kesehatan, pencarian produk diet juga mengalami kenaikan. Halodoc mencatatkan peningkatan sekitar 62 persen pada minggu pertama dan kedua setelah Lebaran.

Fibriyani mengatakan, masyarakat mulai mencari berbagai metode untuk menurunkan berat badan setelah periode konsumsi makanan saat hari raya.

"Banyaknya memang melihatnya produk-produknya yang mulai dari yang herbal, atau juga yang medical yang diminum, sampai kalau sekarang itu ada yang namanya suntik atau injeksi program diet yang melibatkan, misalnya, semaglutide," katanya.

Ramai keluhan pencernaan

Selain kesadaran terhadap kesehatan metabolik, masalah pencernaan juga menjadi keluhan yang cukup sering muncul setelah Lebaran.

Keluhan sembelit meningkat hingga hampir 40 persen, dengan puncak terjadi pada pekan pertama Idulfitri. Sementara itu, keluhan diare meningkat sekitar 13 persen.

"Yang menarik, peningkatan konsultasi itu biasanya paling tinggi di subuh. Jadi meningkat sampai enam kali lipat orang konsultasinya di subuh," kata Fibriyani.

Ia mengatakan, waktu konsultasi tersebut kemungkinan terjadi karena masyarakat baru menyadari keluhan pencernaan setelah bangun tidur.

"Mungkin karena bangun terus kenapa begah banget atau kenapa sulit sekali untuk ke belakang," ujarnya.

Dokter spesialis penyakit dalam, Waluyo Dwi Cahyono mengatakan, gangguan pencernaan setelah Lebaran dapat diantisipasi dengan menjaga komposisi makanan yang dikonsumsi.

Menurutnya, konsumsi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat secara berlebihan dapat memicu gangguan pada sistem pencernaan.

"Untuk menghindari sembelit tentu harus diimbangi dengan sayuran dan buah-buahan supaya kita tidak menjadi sembelit," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengatur jumlah konsumsi makanan agar tidak berlebihan.

"Yang penting kita mengatur jumlahnya dan ditambah buah dan sayuran," ujarnya.

Dengan menjaga keseimbangan nutrisi serta mengontrol porsi makanan, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan Lebaran tanpa harus menghadapi lonjakan masalah kesehatan setelahnya.

(nga/asr)