'Kampung Mati' Banyumas yang Ternyata Tak Pernah Mati
Sebutan 'kampung mati' itu datang dari kejauhan dan dari prasangka.
Di tepi jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dan Banyumas, sebuah gerbang sederhana berdiri nyaris tanpa tanda kehidupan. Ilalang tumbuh tinggi, menutup sebagian pandangan, seolah menjadi pagar alami yang menghalangi rasa ingin tahu.
Sepintas, kawasan Gunung Tugel di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, memang tampak seperti tempat yang ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada rumah warga, tak ada lalu lalang manusia. Hanya sunyi yang terasa tebal.
Namun, kesunyian itu menipu.
Di balik gerbang yang tampak terbengkalai itu, kehidupan justru berjalan dengan caranya sendiri. Kawasan yang kerap dijuluki 'kampung mati' oleh warganet ini ternyata masih aktif bahkan produktif.
Lahan tersebut kini dikelola oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pendidikan hingga usaha peternakan.
Gunung Tugel bukan ruang kosong. Ia adalah ruang yang berubah.
Ilustrasi. Rumah tak berpenghuni. CNN Indonesia/Bimo Wiwoho |
Jejak transmigrasi yang tersisa
Melansir DetikJateng, kisah kawasan ini bermula jauh sebelum label 'kampung mati' muncul. Pada era 1980-an, lahan tersebut merupakan bagian dari program transmigrasi pemerintah.
Menurut Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, kawasan itu dulunya menjadi tempat pelatihan bagi calon transmigran.
Mereka tidak sekadar diberangkatkan ke luar Jawa tanpa bekal. Di Gunung Tugel, para calon transmigran ditempa dengan berbagai keterampilan dasar, mulai dari bercocok tanam hingga memahami pola hidup di permukiman baru.
Di sana bahkan pernah dibangun rumah-rumah simulasi.
Calon transmigran belajar bukan hanya tentang tanah yang akan mereka olah, tetapi juga tentang kehidupan yang akan mereka jalani. Bagaimana menata rumah, mengelola lahan, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru, semuanya dilatih di tempat itu.
Program tersebut berjalan dengan melibatkan akademisi, termasuk dosen-dosen dari Unsoed, sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990. Gunung Tugel, pada masa itu, adalah ruang harapan, tempat orang-orang bersiap memulai hidup baru.
Waktu bergerak, program transmigrasi pun perlahan meredup. Ketika itu terjadi, fungsi Gunung Tugel ikut berubah.
Lahan tersebut kemudian diserahkan kepada Unsoed. Statusnya resmi, lengkap dengan sertifikat atas nama kampus. Namun, perubahan kepemilikan itu tidak langsung diikuti dengan pemanfaatan maksimal.
Dalam beberapa tahun awal, kawasan seluas sekitar 26 hektare itu hanya digunakan secara terbatas. Sebagian ditanami tanaman tertentu, sebagian lagi dimanfaatkan untuk kegiatan berskala kecil.
Tak lagi ramai seperti masa pelatihan transmigrasi, tetapi belum sepenuhnya sunyi.
Seiring waktu, fungsi kawasan ini mulai berkembang. Aktivitas pendidikan dan penelitian perlahan tumbuh. Di sisi lain, sektor bisnis terutama peternakan ikut mengisi ruang yang sebelumnya tampak kosong.
Gunung Tugel bertransformasi, dari pusat pelatihan manusia menjadi laboratorium hidup.
Sunyi yang penuh makna
Kini, luas kawasan tersebut menyusut menjadi sekitar 23 hektare. Sebagian lahannya digunakan untuk pelebaran jalan, sementara sekitar lima hektare dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA).
Meski begitu, kehidupan di dalamnya tetap berjalan.
Tidak ramai, memang. Tidak pula dipenuhi rumah dan aktivitas warga seperti kampung pada umumnya. Namun, menyebutnya 'mati' jelas terlalu sederhana bahkan keliru.
Lihat Juga : |
Gunung Tugel adalah contoh bagaimana ruang bisa kehilangan wajah lamanya, tetapi tidak kehilangan fungsi. Ia mungkin tak lagi menjadi tempat tinggal, tetapi tetap menjadi tempat belajar, bekerja, dan berkembang.
Di luar, ilalang masih tumbuh tinggi. Gerbangnya masih terlihat sepi. Tapi di dalam, ada aktivitas yang terus berlangsung tanpa perlu pengakuan, tanpa perlu keramaian.
Kadang, yang tampak sunyi bukan berarti tak bernyawa. Kadang, kehidupan memang berjalan lebih pelan dan lebih dalam.
(tis/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi. Rumah tak berpenghuni. CNN Indonesia/Bimo Wiwoho