10 Kesalahan Orang Tua Ini Bikin Anak Jadi Pemarah Tanpa Disadari

CNN Indonesia
Rabu, 08 Apr 2026 09:00 WIB
Jangan heran jika si kecil jadi pemarah. Ada beberapa kesalahan orang tua yang bikin anak jadi pemarah. Apa saja?
Ilustrasi. Ada beberapa kesalahan orang tua yang bikin anak jadi pemarah. (Istockphoto/ Nadezhda1906)

5. Terlalu banyak memberi nasehat

Sebagian orang tua menjelaskan kesalahan anak dengan panjang lebar. Padahal, anak sering kali tidak mampu menyerap pesan yang terlalu panjang.

Penjelasan singkat, jelas, dan konsisten jauh lebih efektif. Sampaikan alasan mengapa perilaku tersebut salah, berikan konsekuensi yang wajar, lalu lanjutkan aktivitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

6. Bereaksi berlebihan atau berteriak

Ketika orang tua kehilangan kendali emosi, anak cenderung meniru respons tersebut. Teriakan tidak membuat anak belajar, melainkan memicu rasa takut atau kemarahan balik.

Nada suara yang tenang membantu anak memahami bahwa masalah dapat diselesaikan tanpa ledakan emosi. Orang tua yang mampu mengendalikan diri menjadi contoh regulasi emosi terbaik bagi anak.

7. Menganggap perilaku anak sebagai serangan pribadi

Anak sering menguji batasan karena sedang belajar memahami dunia, bukan karena ingin menyakiti orang tuanya. Ketika orang tua terlalu tersinggung, hubungan emosional justru menjadi renggang.

Tetap tunjukkan kasih sayang sambil menegaskan batasan perilaku. Anak perlu tahu bahwa ia dicintai, tetapi tindakannya tetap memiliki konsekuensi.

8. Membandingkan atau mempermalukan anak

Kalimat seperti, "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" dapat menimbulkan rasa iri, rendah diri, dan kemarahan pada anak. Fokus disiplin seharusnya pada perilaku, bukan perbandingan dengan orang lain.

Memberi apresiasi ketika anak berperilaku baik jauh lebih efektif dalam membangun motivasi positif.

9. Tidak konsisten dalam aturan dan konsekuensi

Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung. Jika hari ini suatu perilaku dilarang tetapi besok dibiarkan, anak akan menganggap aturan tidak serius.

Konsistensi membantu anak memahami batasan dengan jelas. Konsekuensi juga harus realistis dan dapat diterapkan setiap saat.

10. Kurang memberikan waktu berkualitas dan bimbingan emosi

Kesibukan orang tua sering membuat interaksi dengan anak menjadi terbatas. Padahal, anak membutuhkan perhatian penuh setiap hari untuk merasa dihargai dan didengar.

Selain itu, anak perlu diajarkan mengenali emosinya. Orang tua dapat membantu dengan mengatakan, "Kamu terlihat marah, mau cerita apa yang membuatmu kesal?" Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola perasaan secara sehat.

Dengan memahami kesalahan orang tua yang bikin anak pemarah merupakan langkah penting dalam membangun pola asuh yang lebih efektif. Banyak perilaku emosional anak bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari interaksi sehari-hari di rumah. 

(gas/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2