Ketahui 10 Etika buat Turis Asing Saat Berkunjung ke Jepang

CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 12:15 WIB
Foto: CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi yang berniat mengunjungi Jepang, ada sejumlah kebiasaan dan etika yang sudah menjadi budaya masyarakat Jepang. Jadi selama di Jepang, turis asing juga perlu memperhatikan hal-hal tersebut.

Biar tidak culture shock atau kaget dengan kebiasaan tersebut, sebaiknya ketahui terlebih dulu apa saja etiket sehari-hari masyarakat di sana. Mengutip BBC, seorang jurnalis asal Jepang bernama Mizuki Uchiyama sudah membagikan apa saja kebiasaan yang dilakukan masyarakat Jepang.

Ini bisa menjadi panduan bagi pelancong yang ingin datang ke Jepang. Di Negeri Sakura itu, ada banyak aturan tidak tertulis yang kalau dilanggar bisa-bisa langsung mendapat tatapan aneh dari orang sekitar.

Nah, biar bisa menjadi turis asing yang menghargai budaya setempat di Negeri Sakura, simak 10 hal penting ini yang diungkap oleh Mizuki Uchiyama.

Cara Pakai Alat Makan

Jepang terkenal menggunakan sumpit sebagai alat makan. Bagi beberapa orang, khususnya asal Indonesia yang lebih menggunakan sendok dan garpu sebagai alat makan, mungkin cukup kesulitan menggunakan sumpit.

Di Jepang, cara menggunakan sumpit juga ada aturannya. Pertama, jangan menancapkan sumpit di nasi. Kedua, jangan memindahkan makanan dari sumpit yang satu ke sumpit lain. Dua hal ini dianggap tidak sopan dan ada kaitannya dengan ritual pemakaman.

Ketiga, jika sumpit sedang tidak digunakan, maka taruh sumpit di sandaran atau di atas mangkuk. Tambahan lainnya terkait penggunaan alat makan, biasakan mengangkat mangkuk saat makan dan jangan terlalu membungkuk untuk lebih dekat ke makanan.

Boleh Menyeruput Makanan

Tidak sabar makan ramen dan mie-mie lainnya di Jepang? Ternyata menyeruput mie di Jepang itu boleh-boleh saja. Hal ini wajar dilakukan ketika makan ramen dan udon.

Kebiasaan menyeruput mie sudah ada sejak zaman Edo. Jika mie dimakan dengan cara diseruput, diyakini rasa mie jadi semakin lezat karena kuah dan mienya lebih menyatu. Mie yang masuk mulut juga jadi tidak terlalu panas.

Kamus Masuk Restoran

Selama di Jepang, tidak perlu mahir berbahasa Jepang tetapi setidaknya bisa mengucapkan kosa-kata dasar. Salah satu tempat yang membutuhkan banyak kamus atau kosa-kata adalah ketika datang ke restoran untuk makan.

Ketika masuk ke restoran, kata-kata sederhana yang bisa membantu turis lain misalnya "sumimasen" yang artinya "permisi", diucapkan ketika ingin memanggil pelayan. Saat memesan makanan, bisa ucapkan "onegaishimasu" yang artinya "mohon bantuannya", jadi terdengar lebih sopan dan menghargai.

Sebelum menyantap makanan, bisa berseru "itadakimasu" yang artinya "selamat makan" sebagai bentuk rasa syukur terhadap hidangan. Selesai makan, bisa menutupnya dengan ucapan "gochisousama" yang menunjukkan rasa terima kasih terhadap makanan yang disajikan.

Tidak Perlu Memberi Uang Tip

Kalau di Indonesia kita terbiasa memberikan uang tip sebagai bentuk terima kasih, di Jepang jangan lakukan kebiasaan ini. Memberikan pelayanan terbaik sudah dianggap sebagai bagian dari pekerjaan, jadi kalau ada turis yang tiba-tiba memberi tip justru akan membuat pelayan merasa bingung.

Di Jepang, bentuk apresiasi ditunjukkan dengan sikap yang sopan, tidak dilihat dari uang. Selain itu jika ingin menunjukkan rasa menghargai kepada mereka yang telah bekerja, kamu bisa menunjukkannya dengan cara menghabiskan makanan dan pesan secukupnya.

Ada Sapaan yang Tidak Usah Dijawab

Pelancong mungkin akan keluar-masuk toko selama berlibur di jepang. Ketika masuk, suara yang lantang dan bersemangat akan menyambut pengunjung dengan seruan "irasshaimase!" Yang artinya "selamat datang".

Kalau mendengar sapaan ini, tidak perlu dijawab. Cukup membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman. Ini sudah menunjukkan kamu menghargai sambutan tersebut.

Aturan Tak Tertulis yang Perlu Diketahui Turis Saat Berada di Jepang


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :