Mood Naik-Turun saat Menstruasi, Ini Batas Normal Menurut Psikiater

CNN Indonesia
Rabu, 22 Apr 2026 09:00 WIB
Perubahan mood saat menstruasi merupakan hal yang wajar. Namun, psikiater mengingatkan bahwa kondisi ini perlu diwaspadai jika terasa berlebihan. (CNN Indonesia/Angela Merici)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menstruasi sering kali tidak hanya datang dengan kram perut atau badan yang terasa tidak nyaman, tapi juga perubahan suasana hati.

Ada yang jadi lebih sensitif, mudah marah, cepat menangis, atau justru merasa lelah dan ingin menarik diri. Kondisi ini kerap dianggap hal yang wajar selama fase tersebut.

Memang, perubahan emosi saat menstruasi bisa termasuk bagian normal dari siklus tubuh perempuan. Namun, jika keluhannya terasa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini tidak sebaiknya dianggap sepele.

Psikiater Elvine Gunawan menjelaskan bahwa perubahan mood saat menstruasi erat kaitannya dengan fluktuasi hormon dalam tubuh.

"Sebenarnya karena perubahan hormonal estrogen dan progesteron itu sangat berpengaruh. Estrogen punya kaitan besar dengan serotonin dan dopamin di otak, yang memengaruhi suasana hati," ujar Elvine dalam konferensi pers Comfort Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation with Laurier di Jakarta, Selasa (21/4).

Di fase awal menstruasi, sebagian perempuan bisa merasa lebih sensitif dari biasanya, bahkan respons terhadap hal kecilbisa terasa berbeda.

"Di awal-awal menstruasi, kita bisa jadi lebih sensitif terhadap ekspresi orang lain. Hal-hal yang biasanya biasa saja bisa terasa lebih mengganggu," lanjutnya.

Pengalaman menstruasi memang tidak bisa disamaratakan. Penyanyi dan aktris, Maudy Ayunda menceritakan pengalamannya bahwa perubahan emosi saat menstruasi bisa muncul dalam berbagai bentuk, tidak selalu identik dengan bad mood.

"Bisa lebih sensitif, tapi juga bisa jadi lebih gampang terharu. Kadang kalau bahagia bisa terasa sangat bahagia, sampai nangis. Kalau sedih juga jadi lebih cepat terbawa," ujar Maudy.

Kapan perlu waspada?

Ilustrasi. Psikolog mengingatkan perempuan untuk waspada ketika gejala PMS jauh lebih berat dari biasanya. (istockphoto/izusek)

Meski perubahan mood tergolong normal, Elvine mengingatkan ada kondisi yang perlu diwaspadai, terutama jika gejalanya jauh lebih berat dari PMS biasa.

Salah satunya adalah premenstrual dysphoric disorder (PMDD), gangguan yang ditandai dengan perubahan emosi ekstrem dan bisa mengganggu fungsi sehari-hari.

"Kita harus hati-hati. Kalau sedihnya bisa seperti depresi, tidak mau keluar kamar, atau energi benar-benar hilang, itu bisa mengarah ke PMDD," jelas Elvine.

Jika kondisi ini terjadi berulang setiap siklus dan mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari, sebaiknya segera mencari bantuan profesional.

"Kalau merasa tidak baik-baik saja saat menstruasi, sebaiknya dikonsultasikan. Bisa ke dokter obgyn dulu untuk cek hormon, lalu ke psikiater untuk melihat apakah ini masih normal atau sudah masuk gangguan," katanya.

Elvine menekankan, tidak semua perubahan emosi saat menstruasi harus dianggap normal, terutama jika intensitasnya sudah berlebihan.

Selain itu, penting juga untuk mengubah cara pandang terhadap menstruasi. Stigma yang menganggap menstruasi sebagai hal tabu justru bisa membuat perempuan enggan mencari bantuan.

"Ini proses biologis yang dialami semua perempuan, dan bukan sesuatu yang memalukan," ujarnya.

Dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan penting. Hal sederhana seperti bertanya "kamu butuh apa?" atau sekadar mendengarkan bisa membuat perempuan merasa lebih dipahami.

Selain faktor hormonal, kondisi fisik dan mental saat menstruasi juga dipengaruhi gaya hidup sehari-hari.

"Olahraga, makan sehat, dan tidur cukup itu sangat menentukan bagaimana kita melewati fase menstruasi," kata Elvine.

Menstruasi memang bagian alami dari tubuh perempuan. Namun, ketika rasa sakit atau perubahan emosinya terasa berlebihan, itu bukan sesuatu yang harus ditahan sendirian.

Mengenali batas antara kondisi yang masih wajar dan yang perlu bantuan profesional menjadi langkah penting agar perempuan bisa lebih memahami tubuhnya, dan tidak merasa harus selalu kuat sendiri.

(anm/fef)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VCS, Boleh Enggak Sih?

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK