Kenapa Kita Suka Garuk-garuk saat Stres?
Rasa gatal yang muncul saat stres atau berada di bawah tekanan bukan sekadar sugesti, tetapi respons nyata tubuh terhadap kondisi psikologis.
Banyak orang mengira gatal hanya disebabkan oleh masalah kulit. Padahal dalam sejumlah kasus, faktor emosional seperti kecemasan dan stres juga bisa memicunya, bahkan tanpa tanda fisik yang jelas di kulit.
Hal ini terjadi karena tubuh dan pikiran saling terhubung erat. Ketika seseorang mengalami kecemasan, tubuh akan mengaktifkan respons stres yang memengaruhi sistem saraf.
Respons ini bisa memunculkan sensasi fisik, termasuk rasa gatal, perih, atau seperti terbakar di kulit, meski tidak selalu disertai ruam atau iritasi yang terlihat.
Mengutip dari Healthline, Anxiety and Depression Association of America menyebut, gangguan kecemasan memengaruhi 40 juta orang dewasa setiap tahunnya.
Penelitian menunjukkan, gangguan kecemasan dapat memicu gejala fisik yang nyata, termasuk gatal yang dipicu oleh faktor psikologis. Kondisi ini juga bisa menjadi siklus, stres menyebabkan gatal, lalu gatal yang terus-menerus justru meningkatkan kecemasan.
Bagaimana stres bisa menyebabkan gatal?
Saat seseorang mengalami stres atau tekanan emosional, otak mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh melalui sistem saraf. Dalam kondisi ini, sistem saraf menjadi lebih sensitif, termasuk saraf di kulit.
Sebuah penelitian menyebut, otak memainkan peran penting dalam sensasi gatal. Area sensorik, motorik, hingga emosi di otak diaktifkan ketika kita merasa gatal.
Akibatnya, muncul sensasi seperti gatal, kesemutan, atau panas di berbagai bagian tubuh, seperti tangan, kaki, wajah, atau kulit kepala. Sensasi ini bisa muncul sesekali atau berlangsung terus-menerus, tergantung tingkat stres yang dialami.
Namun, gatal ini tidak selalu muncul bersamaan dengan rasa cemas. Dalam beberapa kasus, sensasi gatal bisa datang lebih dulu, lalu memicu kekhawatiran yang memperburuk kondisi psikologis seseorang.
Mengutip dari Psych Central, beberapa orang yang mengalami gatal akibat kecemasan melaporkan bahwa rasa gatal mereka lebih parah terjadi di malam hari yang disebut pruritus nokturnal.
Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara gatal dan gejala depresi. Orang dengan depresi berat melaporkan intensitas gatal yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan orang yang melaporkan gejala depresi ringan.
Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kondisi gatal kronis juga terjadi karena melihat gambar-gambar yang menimbulkan stres, seperti ular yang menyerang atau seseorang yang ditarik keluar gedung yang terbakar. Hal ini membuat tingkat keparahan gatal meningkat.
Siklus berulang
Salah satu hal yang membuat kondisi ini sulit diatasi adalah adanya siklus berulang. Ketika seseorang merasa gatal, respons alami adalah menggaruk. Namun, garukan justru bisa memperparah iritasi kulit, menyebabkan luka, bahkan infeksi.
Di sisi lain, rasa tidak nyaman akibat gatal yang tak kunjung hilang dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Akibatnya, tubuh kembali memicu sensasi gatal, dan siklus ini terus berulang.
Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup, termasuk tidur, konsentrasi, dan kesehatan mental.
Penanganan kondisi ini perlu dilakukan dari dua sisi, yaitu fisik dan psikologis. Mengatasi hanya salah satunya sering kali tidak cukup.
Dari sisi kesehatan mental, mengelola stres menjadi langkah utama. Terapi psikologis, teknik relaksasi, meditasi, hingga olahraga teratur dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan. Dalam beberapa kasus, tenaga profesional mungkin merekomendasikan terapi perilaku atau pengobatan tertentu.
Sementara itu, dari sisi kulit, menjaga kelembapan dan menghindari iritan sangat penting. Penggunaan pelembap, losion anti-gatal, atau krim tertentu dapat membantu meredakan gejala.
Jika gatal dan stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan luka pada kulit, atau tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Rasa gatal saat stres adalah respons nyata tubuh yang sering kali tidak disadari penyebabnya. Hubungan antara pikiran dan tubuh membuat tekanan emosional dapat muncul dalam bentuk gejala fisik, termasuk pada kulit.
Dengan memahami mekanismenya, seseorang dapat lebih cepat mengenali dan mengatasi kondisi ini. Mengelola stres dan merawat kesehatan kulit secara bersamaan berguna untuk memutus siklus gatal dan kecemasan yang saling memicu.
(nga/asr)