Anak Jarang Main di Luar Berisiko Mata Minus Sebelum Usia 8 Tahun

CNN Indonesia
Minggu, 12 Jul 2026 23:16 WIB
Ilustrasi Kacamata Anak
Ilustrasi. Anak-anak juga rentan terkena miopia. (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak yang lebih sering menghabiskan waktu di depan layar gawai dan jarang bermain di luar ruangan berisiko mengalami miopia atau mata minus lebih cepat, bahkan sebelum genap berusia 8 tahun.

Dokter spesialis mata mengingatkan perubahan gaya hidup anak saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus miopia. Aktivitas belajar yang padat, penggunaan gawai dalam waktu lama, hingga minimnya paparan sinar matahari membuat risiko gangguan penglihatan semakin besar.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, Julie Dewi Barliana mengatakan paparan sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan memiliki peran penting dalam mencegah perkembangan mata minus pada anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, anak yang lebih banyak melakukan aktivitas jarak dekat (near work), seperti bermain gawai, membaca, atau belajar dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas di luar ruangan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami miopia.

"Jika kita menemukan seorang anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang sudah hampir hilang, kemudian berasal dari etnis Asia, memiliki riwayat keluarga dengan miopia, serta faktor lingkungan seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah, kurang paparan matahari, dan aktivitas jarak dekat yang intensif, maka anak tersebut sudah masuk kelompok berisiko mengalami premiopia," ujar Julie dalam keterangannya saat hadir di acara Scientific and Clinical Forum 2026 yang diselenggarakan EssilorLuxottica di Jakarta.

Pre-miopia merupakan kondisi ketika mata anak belum mengalami miopia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perkembangan mata minus. Menurut Julie, fase ini menjadi waktu paling ideal untuk melakukan intervensi agar miopia tidak berkembang semakin berat.

Secara normal, anak usia 6-7 tahun masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Namun, jika angka tersebut lebih rendah atau menghilang lebih cepat dari seharusnya, kondisi itu dapat menjadi tanda bahaya anak berisiko mengalami miopia progresif.

"Kalau kita menemukan perubahan hiperopia yang terlalu cepat mengecil, ini bisa menjadi risiko ke arah miopia yang progresif," katanya.

Anak makin sedikit bermain di luar

Julie menilai perubahan pola hidup anak turut mempercepat munculnya kondisi tersebut. Jadwal sekolah yang semakin panjang membuat anak kehilangan waktu untuk beraktivitas di luar ruangan.

"Dulu mungkin anak pulang sekolah jam 12 atau jam 1 siang. Sekarang banyak yang baru pulang jam 4 sore, kemudian masih melanjutkan les. Akibatnya waktu bermain di luar menjadi sangat berkurang," ujarnya.

Temuan ini sejalan dengan keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 yang memasukkan peningkatan aktivitas sedentari atau gaya hidup kurang aktif serta tingginya durasi menatap layar sebagai dampak perubahan gaya hidup anak yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kesehatan mata sekaligus kesehatan secara keseluruhan.

Sementara itu, International Myopia Institute (IMI) dalam pembaruan panduan klinis pada 2023 menyebutkan bahwa memperbanyak waktu bermain di luar ruangan merupakan salah satu intervensi yang paling konsisten terbukti dapat menurunkan risiko munculnya miopia pada anak.

IMI merekomendasikan anak menghabiskan sedikitnya dua jam setiap hari di luar ruangan untuk membantu menekan risiko mata minus.

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan miopia kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan lensa biasa, melainkan telah menjadi perhatian kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan sejak dini.

Ia menambahkan pihaknya telah mengembangkan teknologi lensa bernama HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) yang tidak hanya membantu mengoreksi penglihatan, tetapi juga dirancang untuk memperlambat pertambahan panjang bola mata (axial length), salah satu faktor yang berperan dalam progresivitas miopia.

"Miopia kini bukan lagi sekadar kondisi refraksi biasa yang cukup dikoreksi dengan lensa standar, melainkan sebuah perhatian serius bagi kesehatan publik. Sebagai praktisi kesehatan mata, kita semua menyadari pentingnya mengambil tindakan sejak dini, mengelola perkembangan miopia secara efektif, dan membantu keluarga memahami bahwa penanganan miopia merupakan perjalanan jangka panjang," ujar Dailami.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]