IDAI Sebut Campak Bisa Sebabkan Pneumonia hingga Radang Otak
Banyak orang masih menganggap campak sebagai penyakit ringan pada anak yang hanya ditandai demam dan ruam merah di kulit.
Di balik gejala awal yang tampak sederhana, campak bisa memicu komplikasi serius bahkan berujung fatal.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi menegaskan bahwa campak termasuk penyakit yang harus diwaspadai, terutama pada anak-anak.
"Kasus yang banyak ditemui pada anak adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi, salah satunya campak dan ini sering disertai komplikasi seperti radang paru atau pneumonia," kata Hartono dalam acara Undangan Temu Jurnalis, Pekan Imunisasi Dunia 2026 di Jakarta yang dikutip dari akun YouTube Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.
Menurut Hartono, sekitar 1 dari 20 anak yang terkena campak berisiko mengalami pneumonia, yang menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak balita.
Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Campak juga bisa menyerang organ lain dan memicu komplikasi serius, seperti:
- infeksi telinga yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran,
- kerusakan mata, termasuk pada kornea,
- hingga radang otak.
"Radang otak ini bisa menyebabkan kejang, kelumpuhan, hingga gangguan kognitif," ujarnya.
Dalam kasus yang lebih jarang, sekitar 1 dari 1.000 kasus campak dapat berkembang menjadi radang otak, dan sebagian di antaranya meninggalkan gejala sisa jangka panjang.
Bahkan, ada komplikasi langka yang bisa muncul bertahun-tahun kemudian, yakni subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), radang otak progresif yang tidak dapat disembuhkan dan berujung fatal.
"Sekitar satu dari sejuta kasus, setelah 7-10 tahun, bisa berkembang menjadi SSPE," kata Hartono.
Campak bukan penyakit baru, tetapi hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global. Virusnya dikenal sangat menular dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan.
"Virus ini cukup tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga bisa menyebabkan penyakit baik di negara beriklim panas maupun dingin," jelas Hartono.
Ia juga menyinggung bahwa kasus campak kembali meningkat di berbagai negara, termasuk di Eropa dan Amerika dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa campak bukan penyakit berbahaya.
"Kadang dianggap enteng, hanya demam dan ruam, nanti juga sembuh sendiri. Padahal risikonya bisa berat," ujarnya.
Imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah campak dan komplikasinya. Sementara itu,cakupan imunisasi di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah.
Data dalam Pekan Imunisasi Dunia 2026 menunjukkan sekitar 2,8 juta anak di Indonesia belum mendapat imunisasi lengkap.
Hartono mengingatkan orang tua untuk kembali memeriksa catatan imunisasi anak, misalnya melalui buku KIA.
"Kalau belum lengkap, mohon dilengkapi, dan bagi yang sudah lengkap, imunisasi tetap berlanjut, tidak berhenti di usia dua tahun, tapi juga saat anak masuk sekolah," katanya.
Program imunisasi juga mencakup kelompok lain, seperti calon pengantin dan orang dewasa dengan kondisi tertentu, termasuk tenaga kesehatan atau mereka yang memiliki komorbid. Lebih dari sekadar perlindungan individu, imunisasi juga berperan dalam melindungi orang lain di sekitar.
Hartono menambahkan, sejumlah penelitian di negara berkembang menunjukkan anak dengan imunisasi lengkap cenderung memiliki capaian kesehatan dan perkembangan yang lebih baik, termasuk dalam aspek pendidikan.
"Manfaat vaksin bukan hanya melindungi individu, tapi juga lingkungan sekitarnya," ujarnya.
Memahami bahwa campak bukan sekadar penyakit ruam biasa menjadi langkah penting. Dengan kesadaran dan imunisasi yang tepat, risiko komplikasi berat hingga kematian bisa dicegah sejak awal.
(anm/fef)