Cerita Para 'Dukun Modern' dan Bisikan Sunyi dari Kartu Tarot

Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 01 Mei 2026 19:30 WIB
Para pembaca tarot menjadi 'dukun' modern, bukan meramal nasib, melainkan membantu orang memahami diri di tengah hidup yang tak pasti.
Ilustrasi. Para dukun modern yang menggunakan medium tarot. (REUTERS/Shamil Zhumatov)

Cinta, cinta, dan cinta

Dari sekian banyak cerita yang Elise dengar, satu tema hampir selalu muncul, percintaan.

"Aneh ya, mau mulai dari topik apa pun, ujung-ujungnya pasti ke love life," katanya sambil tersenyum.

Cinta, rupanya, tetap menjadi misteri paling abadi, bahkan di era modern yang serba rasional. Namun, ada kalanya pertanyaan yang datang melampaui nalar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Elise pernah menghadapi klien yang bertanya apakah orang yang dekat dengannya menggunakan 'sesuatu', semacam energi atau pengaruh tak kasatmata yang membuat hubungan terasa begitu cepat dan intens.

"Awalnya reading-nya netral. Tapi akhirnya pertanyaan itu jadi ikut dipertimbangkan sebagai bagian dari cerita," ujarnya.

Di titik itu, batas antara psikologi, intuisi, dan kepercayaan personal menjadi tipis. Tarot tidak memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya membuka kemungkinan.

Di Jakarta, cerita tentang tarot mengambil bentuk yang berbeda lewat Panji (26). Ia mengenal tarot bukan dari pencarian spiritual, melainkan dari rasa penasaran khas anak muda.

Saat masih kuliah, Panji tertarik pada ilustrasi kartu tarot yang menurutnya artistik dan penuh simbol. Ia mulai mempelajari arti kartu satu per satu, awalnya untuk dirinya sendiri. Namun lama-kelamaan, teman-temannya mulai datang, bukan untuk sekadar mencoba, tetapi untuk bercerita.

"Dulu sering jadi tempat curhat di tongkrongan. Dari situ malah jadi keterusan," katanya.

Panji tidak pernah secara sadar memutuskan menjadi tarot reader. Semuanya mengalir. Dari obrolan ringan, menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, menjadi peran.

Kini, ia melihat tarot sebagai bahasa alternatif, cara membaca emosi dan dinamika hidup yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

"Orang sering kira tarot itu buat tahu masa depan. Padahal lebih ke refleksi. Kartu itu cermin, bukan peta," ujarnya.

Ia menyadari, generasi muda saat ini tidak lagi mencari jawaban mutlak. Mereka lebih tertarik pada proses memahami diri, mencari makna, dan berdamai dengan ketidakpastian.

Fenomena tarot, memang bukan sekadar tren. Ia adalah cermin dari kegelisahan zaman.

Di tengah dunia yang serba cepat, di mana segala sesuatu dituntut pasti dan terukur, manusia justru semakin akrab dengan rasa ragu. Karier yang tak selalu linear, hubungan yang tak selalu jelas arah, hingga masa depan yang terasa kabur.

Di ruang-ruang itulah tarot hadir. Bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai teman berdialog.

Para 'dukun modern' ini tidak menjanjikan kepastian. Mereka tidak mengklaim mampu mengubah takdir. Yang mereka lakukan jauh lebih sederhana dan mungkin justru lebih sulit, yaitu mendengarkan.

Di balik kartu-kartu bergambar itu, yang sebenarnya sedang dibaca bukanlah masa depan, melainkan diri seseorang di masa kini.

Mungkin, di situlah letak daya tariknya. Bahwa di dunia yang bising, masih ada ruang kecil untuk berhenti, bertanya, dan mencoba memahami tanpa dihakimi.

(tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2