Beda Flu, Alergi, dan Sinusitis: Butuh Penanganan Spesifik

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Selasa, 28 Apr 2026 12:10 WIB
(Foto: dok Mayapada Hospital)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hidung tersumbat, biasanya diikuti kepala yang terasa berat hingga tidur jadi tak nyenyak, kerap dikaitkan sebagai sakit flu yang lalu diatasi dengan obat pereda gejala. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda sinusitis, yaitu peradangan pada rongga sinus yang memerlukan penanganan lebih spesifik.

Kesamaan gejala antara flu dan sinusitis diakui kerap sulit dibedakan. dr. Caesarisma Vidiyanti, Sp.T.H.T.B.K.L. di Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, meski gejalanya mirip, ada perbedaan mendasar yang bisa dikenali.

"Flu umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan bersifat self-limiting, artinya dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Sedangkan sinusitis adalah peradangan pada rongga sinus yang bisa timbul akibat infeksi lanjutan atau faktor lain, dan sering membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut," kata dr. Caesarisma.

Salah satu perbedaan mendasar adalah durasi dan pola gejala. Pada flu, gejala biasanya muncul bertahap dan membaik dalam waktu kurang dari tujuh hari, seperti demam, bersin, hidung berair, sakit tenggorokan, serta rasa lemas.

Alergi juga dapat menimbulkan gejala serupa, seperti hidung tersumbat dan pilek, namun umumnya tidak disertai demam. Kondisi ini ditandai dengan bersin berulang, hidung dan mata terasa gatal, serta mata berair, yang dipicu oleh paparan alergen seperti debu, udara dingin, atau bulu hewan, dan dapat berulang saat terpapar pemicunya.

Jika gejala bertahan lebih dari tujuh hari dan tak kunjung membaik, hal ini dapat menjadi tanda sinusitis. Hidung tersumbat biasanya menjadi keluhan utama, disertai cairan hidung yang lebih kental dan tidak bening, serta nyeri atau tekanan di area pipi, dahi, dan sekitar mata.

"Nyeri wajah merupakan salah satu tanda khas sinusitis dan biasanya terasa lebih berat saat pasien menunduk atau berbaring," tambah dr. Caesarisma.

Perbedaan lain juga tampak dari pola gejala. Flu cenderung membaik dalam beberapa hari, sedangkan alergi biasanya muncul saat terpapar pemicu dan dapat berulang.

Pada sinusitis, gejala justru dapat memburuk atau muncul kembali setelah sempat mereda (double worsening), yang menjadi tanda infeksi pada sinus. Kondisi ini juga dapat disertai gangguan penciuman, bau tidak sedap dari hidung, rasa penuh di wajah, serta demam ringan hingga sedang jika infeksi melibatkan bakteri.

Sinusitis lebih sering terjadi pada individu dengan riwayat alergi, polip hidung, atau kelainan struktur hidung seperti deviasi septum, serta dipicu polusi dan asap rokok. Peradangan berulang pada alergi juga dapat meningkatkan risiko sinusitis, sehingga penanganannya berbeda.

Jika flu biasanya cukup dengan istirahat dan obat pereda gejala, pada alergi ditangani dengan menghindari pemicu, sementara sinusitis memerlukan evaluasi medis untuk menentukan terapi yang tepat. dr. Caesarisma menegaskan, penanganan sinusitis harus dilakukan secara spesifik dan didukung oleh diagnosis yang akurat.

"Diagnosis sinusitis yang tepat memungkinkan penentuan terapi yang sesuai, baik melalui prosedur medis maupun teknologi minimal invasif, sehingga gejala dapat mereda secara optimal dan risiko kekambuhan berkurang," pungkasnya.

Sejalan dengan kebutuhan diagnosis dan penanganan yang tepat, Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) menghadirkan layanan Sinusitis Center yang menangani kasus sinusitis secara komprehensif dengan mengedepankan teknologi modern dan prosedur minimal invasif seperti endoskopi, untuk membantu pasien kembali mendapatkan #NapasLega.

Layanan Sinusitis Center yang didukung oleh tim dokter berpengalaman dalam menangani gangguan telinga, hidung, dan tenggorokan, dijadwalkan beroperasi pada April 2026 dengan informasi dan pendaftaran yang dapat diakses melalui Call Center 150770.

Informasi kesehatan dari para dokter Mayapada Hospital bisa diakses melalui aplikasi MyCare pada fitur Health Articles & Tips. Selain itu, aplikasi juga dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).

(rea/rir)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VCS, Boleh Enggak Sih?

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK