Anak Pemalu dan Pendiam? Orang Tua Coba Kenali 6 Penyebabnya
Anak yang pemalu dan pendiam sering kali membuat orang tua bertanya-tanya, apakah anak hanya butuh ruang untuk merasa nyaman, atau memang ada hal lain yang justru membuat si anak lebih banyak diam.
Anak pendiam pun sering dikaitkan pada tingkat kepercayaan diri anak. Kenyataannya, sebagian anak memang punya gaya perilaku yang lebih tenang, hati-hati, dan perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, ada beberapa faktor yang bisa membuat anak terlihat lebih pemalu dan pendiam. Berikut enam penyebabnya menurut sejumlah penelitian.
1. Gaya perilaku bawaan sejak lahir
Sebagian anak memang memiliki cara merespons yang lebih hati-hati sejak kecil. Mereka biasanya tidak langsung bergabung di lingkungan baru, lebih banyak mengamati, dan butuh waktu sebelum merasa nyaman.
Melansir studi bertajuk Understanding the Emergence of Social Anxiety in Children, kondisi ini disebut sebagai behavioral inhibition, yaitu kecenderungan anak lebih waspada terhadap hal baru, orang asing, atau situasi sosial yang belum dikenalnya.
Dalam beberapa situasi, sifat pemalu bisa menjadi bagian dari karakter bawaan anak, bukan pengaruh orang tua.
2. Pola asuh yang terlalu protektif
Anak yang terlalu sering dilindungi bisa lebih sulit membangun keberanian dalam situasi sosial. Misalnya, orang tua selalu menjawabkan pertanyaan untuk anak, terlalu cepat menolong, atau tidak memberi ruang untuk anak mencoba sendiri.
Studi dalam Journal of Social and Personal Relationships menemukan pola asuh yang terlalu mengontrol atau terlalu melindungi berkaitan dengan meningkatnya gejala kecemasan sosial pada anak dan remaja.
Hal ini bisa terjadi karena anak kurang kesempatan mengambil keputusan, menghadapi tantangan kecil, dan belajar mengatasi rasa tidak nyaman.
3. Orang tua juga mudah cemas
Anak banyak belajar dari apa yang ia lihat di rumah. Jika orang tua sering tampak takut, khawatir berlebihan, atau selalu menekankan bahaya saat bertemu orang baru, anak bisa ikut melihat situasi sosial sebagai sesuatu yang menegangkan.
Kecemasan sosial pada anak menunjukkan kecemasan orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang lingkungan sosial.
Anak bisa belajar bahwa bertemu orang baru itu menakutkan atau berbicara di depan orang lain berisiko memalukan.
4. Kurang kesempatan berinteraksi sosial
Keberanian sosial anak juga terbentuk dari latihan. Jika anak jarang bermain dengan teman, jarang ikut aktivitas kelompok, atau terlalu sering diwakili orang tua saat berinteraksi, ia bisa lebih canggung saat berada di lingkungan sosial.
Mengutip dari Clinical Child and Family Psychology Review menunjukkan hubungan antara sifat pemalu dan kecemasan sosial dapat dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk pola interaksi dengan orang tua dan kesempatan anak untuk bersosialisasi.
Semakin sering anak punya pengalaman sosial yang aman dan menyenangkan, biasanya ia lebih mudah membangun rasa percaya diri.
5. Pernah alami pengalaman sosial yang tidak menyenangkan
Anak bisa menjadi lebih pendiam setelah mengalami pengalaman sosial yang membuatnya tidak nyaman. Misalnya pernah diejek, di-bully, dipermalukan di depan kelas, atau sering dikritik saat mencoba berbicara.
Pengalaman seperti ini dapat membuat anak lebih berhati-hati. Terkadang, rasa malu yang awalnya wajar bisa berkembang menjadi kecemasan sosial jika pengalaman negatif terus berulang dan tidak ditangani.
6. Anak sedang butuh waktu untuk merasa aman
Tidak semua anak pendiam berarti pemalu. Sebagian anak termasuk tipe slow-to-warm-up, yaitu anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Anak seperti ini bisa terlihat diam di awal, tetapi menjadi lebih aktif setelah merasa nyaman. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak buru-buru melabeli anak sebagai penakut, pemalu, atau tidak percaya diri.
Pemalu dan pendiam tidak selalu menjadi masalah. Banyak anak pemalu tetap bisa tumbuh bahagia, berprestasi, dan punya hubungan sosial yang baik.
Orang tua perlu lebih memperhatikan jika rasa malu membuat anak terus menghindari sekolah, tidak mau bertemu siapa pun, tidak punya teman sama sekali, sering menangis saat harus bersosialisasi, atau terlihat sangat tertekan dalam situasi sosial.
(anm/fef) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
