Hal-hal yang Salah Kaprah di Balik Jargon 'Laki-laki Tidak Bercerita'
Bercerita adalah kebutuhan dasar manusia
Medwin menegaskan bahwa bercerita adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia, bukan sesuatu yang ditentukan oleh gender.
"Setiap manusia punya hak untuk bercerita, tidak melihat gender atau jenis kelamin," jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laki-laki memiliki kebebasan untuk menentukan kepada siapa mereka ingin membuka diri. Bisa kepada pasangan, sahabat, atau bahkan profesional seperti psikolog.
Namun, stigma bahwa 'laki-laki tidak boleh lemah' masih kuat tertanam di masyarakat. Bahkan, dalam situasi tertentu, laki-laki yang terbuka justru dianggap tidak cukup maskulin.
"Kita perlu mengubah stigma bahwa laki-laki kalau cerita itu artinya kelemahan," kata Medwin.
Selama stigma ini terus dipertahankan, laki-laki akan selalu berada dalam posisi serba salah antara kebutuhan untuk didengar dan tuntutan untuk terlihat kuat.
Tidak heran jika banyak yang akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena tidak tahu apakah mereka akan diterima.
Ilustrasi. Menyimpan perasaan tanpa bercerita bisa berujung pada masalah mental. (iStockphoto) |
Diam yang berlangsung lama bisa berubah menjadi beban yang tidak kasat mata. Ia tidak terlihat seperti luka fisik, tetapi dampaknya ada dan nyata.
Laki-laki yang tidak terbiasa mengekspresikan emosi cenderung mengalami kesulitan dalam membangun kedekatan emosional. Mereka mungkin hadir secara fisik, tetapi terasa jauh secara perasaan.
Medwin juga mengingatkan, dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Perasaan yang terus dipendam bisa berkembang menjadi gangguan cemas, depresi, hingga bunuh diri.
Ironisnya, banyak dari mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Karena sejak awal, mereka tidak pernah diajarkan untuk mengenali emosi itu sendiri.
Bercerita bukan berarti tak maskulin
Mengubah kondisi ini bukan berarti menghapus maskulinitas. Bukan berarti laki-laki harus menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda.
"Cara mengubahnya adalah dengan mengubah cara pandang bahwa laki-laki bercerita itu tanda kelemahan, menjadi laki-laki juga punya hak untuk bercerita," jelas Medwin.
Perubahan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia membuka kemungkinan baru bahwa laki-laki bisa tetap kuat sekaligus jujur terhadap perasaannya.
Semakin banyak laki-laki yang berani berbicara tentang kesehatan mental. Semakin banyak ruang yang membuka percakapan tentang emosi, tanpa stigma dan tanpa label.
Perubahan ini mungkin tidak selalu terlihat besar. Kadang hanya berupa percakapan kecil seorang teman yang mulai jujur, atau seseorang yang akhirnya berkata bahwa ia tidak baik-baik saja.
Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa lemah. Menjadi kuat adalah ketika seseorang berani mengakui apa yang ia rasakan dan memilih untuk tidak lagi memikulnya sendirian.
(nga/asr) Add
as a preferred source on Google

Ilustrasi. Menyimpan perasaan tanpa bercerita bisa berujung pada masalah mental. (iStockphoto)