'Yang Dulu Ranking 1 Sekarang Jadi Apa?', Ini Kata Riset
'Itu yang dulu ranking 1 di kelas, sekarang ngapain ya?' atau 'yang dulu ambis banget pas pelajaran matematika, sekarang sudah menjadi apa?'. Kalimat seperti ini sering berseliweran di media sosial.
Sekilas, kalimat itu terdengar seperti candaan ringan, dengan sedikit nada menyepelekan di baliknya. Seolah-olah pencapaian seseorang saat kecil harus selalu dibuktikan dengan 'jadi apa' ketika dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan semacam ini ternyata bukan cuma obrolan warganet. Topik serupa sudah lama diteliti, terutama untuk melihat bagaimana anak-anak dengan kemampuan kognitif tinggi berkembang saat dewasa.
Salah satu studi paling terkenal tentang anak berbakat adalah Study of Mathematically Precocious Youth (SMPY) dari Vanderbilt University. Riset yang telah berjalan lebih dari 50 tahun ini melacak remaja dengan kemampuan kognitif sangat tinggi sejak usia belasan hingga dewasa.
Hasil yang disimpulkan adalah kelompok ini cenderung mencapai tingkat pendidikan, kreativitas, dan karier yang jauh di atas rata-rata. Banyak dari mereka memang tetap unggul, bukan hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan profesional.
Studi lain dari Psychological Science yang mengikuti remaja top 1 persen dalam kemampuan matematika selama puluhan tahun menemukan bahwa mereka banyak berakhir di bidang seperti:
- akademisi dan profesor,
- ilmuwan dan peneliti,
- profesi STEM (sains, teknologi, engineering, matematika),
- dokter dan pengacara,
- eksekutif dan inovator.
Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa kombinasi kemampuan sejak kecil, misalnya kuat di matematika sekaligus verbal, ikut menentukan arah karier. Ada yang masuk teknologi dan sains, tapi ada juga yang berkembang di humaniora, hukum, atau bidang kreatif berbasis intelektual.
Kelompok paling ekstrem hasilnya lebih menonjol
Ilustrasi belajar. (iStockphoto) |
Pada kelompok yang lebih kecil lagi, sekitar 0,01 persen teratas hasilnya bahkan lebih mencolok. Kelompok ini memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk menempuh pendidikan doktoral, bahkan hingga puluhan kali lipat dibanding populasi umum.
Sebagian dari mereka sudah menghasilkan karya ilmiah, teknis, atau sastra penting sejak usia muda dewasa.
Gambaran serupa juga terlihat pada ajang kompetisi elit. Penelitian dari jurnal Scientometrics yang melacak ribuan peraih medali International Mathematical Olympiad (IMO) menemukan banyak dari mereka akhirnya berkarier di:
- akademia,
- industri teknologi (software),
- ekonomi dan keuangan.
Bahkan, banyak yang melanjutkan studi di universitas top dunia seperti MIT.
Meski data menunjukkan kecenderungan capaian tinggi, penting untuk diingat bahwa kecerdasan bukan satu-satunya faktor penentu hidup. Lingkungan, kesempatan, minat, hingga kondisi mental juga berperan besar dalam perjalanan seseorang.
Selain itu, tidak semua orang yang dulu paling pintar akan selalu terlihat menonjol di mata publik dan itu bukan berarti mereka gagal.
Jadi, mereka sekarang jadi apa?
Jika dirangkum, anak-anak yang dulu sangat cerdas memang cenderung menempuh pendidikan tinggi, bekerja di bidang keahlian khusus hingga menghasilkan karya atau kontribusi yang signifikan
Jalurnya bisa sangat beragam, tidak selalu sesuai ekspektasi umum.
Pertanyaan 'ranking 1 sekarang jadi apa?' mungkin kurang tepat. Jawabannya bukan satu label pekerjaan, melainkan perjalanan panjang yang dibentuk oleh banyak faktor, bukan hanya nilai di kelas.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi belajar. (iStockphoto)