Serupa tapi Tak Sama, Ini Beda Hamil Anggur dan Hamil Ektopik
Idealnya, kehamilan terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di dalam rahim. Namun, perjalanan menuju sembilan bulan ini tidak selalu mulus.
Ada kalanya, komplikasi muncul dalam bentuk hamil anggur atau hamil di luar kandungan (ektopik).
Meski sama-sama merupakan gangguan pada fase awal kehamilan, keduanya adalah kondisi medis yang berbeda total, mulai dari penyebab hingga risiko yang mengintai sang ibu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Memahami hamil anggur vs ektopik
Hamil anggur terjadi akibat pertumbuhan jaringan plasenta yang tidak normal. Sementara itu, hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik terjadi saat sel telur yang dibuahi justru menempel di luar rongga utama rahim.
Secara medis, hamil anggur atau mola pregnancy adalah komplikasi langka yang melibatkan pertumbuhan abnormal sel trofoblas. Sel ini seharusnya berkembang menjadi plasenta untuk menutrisi janin.
Melansir Mayo Clinic, hamil anggur terbagi menjadi dua kategori:
• Complete molar pregnancy: Jaringan plasenta membengkak dan membentuk kista berisi cairan. Dalam kondisi ini, tidak ada janin yang terbentuk.
• Partial molar pregnancy: Jaringan plasenta terdiri dari jaringan normal dan abnormal. Janin mungkin sempat terbentuk, namun tidak dapat bertahan hidup dan biasanya berujung pada keguguran spontan.
Berbeda dengan hamil anggur, kehamilan ektopik adalah kondisi di mana embrio 'tersesat'. Mengutip Cleveland Clinic, sebagian besar kasus ektopik terjadi di saluran tuba falopi.
Karena saluran ini tidak dirancang untuk menampung pertumbuhan embrio, risiko terbesar adalah pecahnya tuba yang dapat memicu perdarahan hebat dan mengancam nyawa.
Mengapa bisa terjadi?
Akar masalah keduanya pun berbeda. Hamil anggur murni disebabkan oleh kesalahan pada proses pembuahan secara genetik, di mana komposisi kromosom tidak seimbang.
Di sisi lain, hamil di luar kandungan lebih sering dipicu oleh gangguan fisik pada saluran tuba yang menghambat perjalanan sel telur menuju rahim. Faktor risikonya meliputi:
• Jaringan parut akibat operasi panggul.
• Riwayat infeksi menular seksual atau radang panggul.
• Endometriosis.
• Kelainan bentuk tuba falopi sejak lahir.
Mengutip Med Boundhub, kedua kondisi ini pada awalnya bisa terasa seperti kehamilan normal. Namun, seiring waktu, muncul tanda-tanda khas yang harus diwaspadai.
Tanda hamil anggur:
1. Perdarahan vagina berwarna cokelat tua hingga merah terang pada trimester pertama.
2. Mual dan muntah yang sangat hebat (hiperemesis).
3. Muncul kista menyerupai butiran anggur yang keluar dari vagina.
4. Ukuran rahim membesar lebih cepat dari usia kehamilan seharusnya.
Tanda hamil ektopik:
1. Perdarahan vagina disertai nyeri perut bagian bawah yang tajam.
2. Nyeri pada punggung bawah.
3. Lemas hingga pusing hebat.
Jika tuba pecah, pasien akan mengalami nyeri bahu mendadak, pingsan, dan tekanan darah turun drastis akibat perdarahan internal.
Kabar baiknya, kedua komplikasi ini bukan berarti akhir dari peluang Anda untuk memiliki buah hati di masa depan.
Penyintas hamil anggur umumnya disarankan menunggu selama enam bulan hingga satu tahun sebelum mencoba hamil kembali guna memastikan jaringan abnormal benar-benar hilang.
Sementara pada kasus ektopik, perempuan masih memiliki peluang besar untuk hamil normal di kemudian hari, bahkan jika salah satu saluran tuba harus diangkat melalui prosedur operasi.
(nga/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

