Mengenal Bundibugyo, Strain Ebola Langka yang Kini Mewabah
Ebola disorot usai ditetapkan sebagai wabah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo ini ditetapkan sebagai darurat kesehatan global atau public health emergency of international concern (PHEIC).
Bundibugyo sendiri pada dasarnya merupakan strain Ebola yang relatif lebih jarang muncul dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui.
WHO menyebut wabah ini memicu kekhawatiran karena penyebaran lintas negara, meningkatnya jumlah kematian, hingga dugaan penularan yang sempat tidak terdeteksi.
Lalu, sebenarnya apa itu virus Ebola strain Bundibugyo dan kenapa strain ini dianggap mengkhawatirkan?
Bundibugyo ebolavirus merupakan salah satu strain virus Ebola. Virus ini menyebabkan penyakit infeksi virus berat yang dapat memicu demam, kerusakan organ, hingga perdarahan di dalam tubuh penderita. Virus ini pertama kali diidentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, saat wabah terjadi pada 2007-2008.
WHO mencatat, strain ini baru muncul dalam beberapa lonjakan kasus besar sejak pertama kali terdeteksi, sebelum kembali memicu wabah terbaru pada 2026 di DRC dan Uganda.
WHO juga menyatakan, wabah Bundibugyo Ebola kali ini menimbulkan ketidakpastian besar terkait luas penyebaran yang sebenarnya.
Mengutip dari Guardian, sejumlah faktor yang membuat wabah ini dianggap mengkhawatirkan antara lain dugaan keterlambatan deteksi kasus, penyebaran di wilayah konflik dan pertambangan, hingga keterbatasan fasilitas kesehatan di sejumlah area terdampak.
Selain itu, mobilitas warga lintas negara antara Uganda dan DRC juga disebut meningkatkan risiko penyebaran virus.
Apa bedanya dengan Ebola biasa?
Sebagian besar wabah Ebola sebelumnya disebabkan oleh strain Zaire ebolavirus. Strain ini dikenal memiliki tingkat kematian sangat tinggi dan sudah memiliki vaksin yang digunakan dalam sejumlah lonjakan kasus besar sebelumnya.
Sementara Bundibugyo berbeda karena lebih jarang diteliti dan hingga kini belum memiliki vaksin atau terapi khusus yang disetujui. Namun, sejumlah penelitian menyebut Bundibugyo kemungkinan memiliki tingkat fatalitas lebih rendah dibanding beberapa strain Ebola lain.
WHO mencatat angka kematian pada wabah Bundibugyo sebelumnya berkisar antara 30 hingga 50 persen. Sebagai perbandingan, beberapa wabah Zaire Ebola pernah mencatat fatalitas hingga 70-90 persen.
American Society for Microbiology (ASM) Journal bahkan menyebut Bundibugyo dianggap less pathogenic atau relatif kurang mematikan dibanding sebagian strain Ebola lainnya.
Bagaimana penularannya?
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menjelaskan, Ebola strain Bundibugyo menular melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita.
Penularannya juga dapat terjadi lewat benda yang terkontaminasi cairan tubuh atau kontak dengan hewan yang terinfeksi.
Namun, Ebola tidak menyebar melalui udara seperti flu biasa, ataupun melalui air.
Untuk gejala infeksi Ebola strain Bundibugyo sendiri umumnya mirip dengan Ebola lain. Berikut di antaranya:
- demam,
- lemas,
- nyeri otot,
- sakit kepala,
- muntah,
- diare,
- hingga perdarahan pada kasus berat.
WHO mengingatkan deteksi dini dan isolasi pasien menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran virus.Selain itu, penggunaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan dan pelacakan kontak erat juga menjadi bagian utama pengendalian wabah Ebola.
(anm/asr)