Ebola Jadi Darurat Global, Kemenkes Imbau Hindari Makanan Jenis Ini

CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 09:45 WIB
Kemenkes RI meningkatkan kewaspadaan menyusul penetapan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global oleh WHO.
Ilustrasi. Kemenkes RI meningkatkan kewaspadaan menyusul penetapan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global oleh WHO. (John WESSELS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meningkatkan kewaspadaan menyusul penetapan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Salah satu imbauan yang disampaikan pemerintah adalah menghindari konsumsi daging mentah maupun hewan liar untuk menekan risiko penularan penyakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman meminta masyarakat memastikan makanan yang dikonsumsi telah dimasak hingga matang.

"Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar," kata Aji, Minggu (17/5) seperti yang dikutip dari detikhealth.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul penetapan WHO mengenai wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat global.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, hingga kini telah tercatat lebih dari 300 kasus suspek Ebola dengan 88 kematian.

Meski begitu, WHO menegaskan wabah Ebola saat ini belum tergolong pandemi seperti Covid-19. WHO juga belum merekomendasikan penutupan perbatasan internasional.

Merespons perkembangan tersebut, pemerintah Indonesia memperkuat kesiapsiagaan nasional untuk mencegah masuknya kasus ke dalam negeri.

"Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kasus Ebola di tingkat global serta memperkuat kesiapsiagaan nasional guna mencegah masuknya penyakit ke Indonesia," ujarnya.

Menurut Aji, pengawasan pelaku perjalanan internasional kini diperketat di pintu masuk negara melaluithermal scanner, observasi visual, hingga pemanfaatan aplikasi All Indonesia

Selain itu, Kemenkes juga telah menyiapkan 198 rumah sakit rujukan dalam jejaring layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Penguatan surveilans juga dilakukan melalui pemantauan di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah turut memperkuat kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, serta koordinasi lintas sektor bersama WHO dan berbagai pihak terkait.

Masyarakat pun diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker saat sakit atau berada di tempat umum, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan orang, hewan, maupun benda yang diduga terkontaminasi guna menekan risiko penularan Ebola.

WHO menyebut, wabah kali ini dipicu Bundibugyo ebolavirus, salah satu strain Ebola yang tergolong langka dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui.

Bundibugyo ebolavirus merupakan salah satu strain virus Ebola penyebab Ebola Virus Disease (EVD), yakni penyakit infeksi virus berat yang dapat memicu demam, kerusakan organ, hingga perdarahan di dalam tubuh penderita.

Virus ini pertama kali diidentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, saat wabah terjadi pada 2007-2008.

WHO mencatat strain ini baru muncul dalam beberapa lonjakan kasus besar sejak pertama kali terdeteksi, sebelum kembali memicu wabah terbaru pada 2026 di DRC dan Uganda.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google