Main Character Syndrome Bisa Berbahaya, Ini Tandanya
Pernah merasa seperti tokoh utama dalam hidup sendiri? Berjalan memasuki ruangan sambil membayangkan semua mata tertuju pada Anda, atau merasa hidup berjalan layaknya adegan film lengkap dengan alur dramatis dan klimaks emosional?
Fenomena ini belakangan dikenal dengan istilah main character syndrome. Di media sosial, istilah tersebut sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang merasa dirinya adalah pusat cerita, sementara orang lain hanya figuran dalam kehidupannya.
Sekilas, sikap ini tampak percaya diri dan memotivasi. Namun, jika berlebihan, main character syndrome bisa berkembang menjadi perilaku yang berbahaya bagi diri sendiri maupun hubungan sosial.
Melansir Cleveland Clinic, psikolog Susan Albers menyebut bahwa istilah ini sebenarnya bukan diagnosis medis. Meski begitu, pola perilakunya nyata dan semakin sering terlihat, terutama di era media sosial.
"Main character energy adalah kondisi ketika seseorang merasa seperti kamera selalu menyorot dirinya," ujar Albers.
Perasaan tersebut memengaruhi cara seseorang berbicara, berpakaian, hingga bersikap di depan orang lain. Mereka cenderung membentuk citra tertentu demi mendukung 'narasi' hidup yang ingin ditampilkan.
Misalnya, seseorang yang ingin terlihat lucu akan terus menjadi pusat perhatian dalam pertemanan. Ada juga yang sengaja tampil dramatis agar hidupnya terasa lebih menarik dan layak ditonton.
Di satu sisi, energi ini memang bisa memberi dorongan positif. Banyak orang merasa lebih percaya diri, termotivasi, bahkan berani keluar dari zona nyaman ketika menganggap dirinya sebagai 'pemeran utama' dalam hidupnya sendiri.
Namun masalah muncul ketika seseorang mulai mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain.
Saat semua hal harus tentang diri sendiri
Orang dengan main character syndrome sering kali tanpa sadar membuat semua situasi kembali berpusat pada dirinya.
Ketika teman sedang curhat, misalnya, respons yang muncul justru membandingkan masalah tersebut dengan pengalaman pribadi atau mengalihkan fokus pembicaraan pada dirinya sendiri.
Dalam kondisi tertentu, mereka juga cenderung meromantisasi penderitaan. Masalah hidup dianggap sebagai bagian penting dari 'pengembangan karakter' sehingga penderitaan terasa harus dialami demi cerita hidup yang lebih dramatis.
Akibatnya, seseorang bisa kehilangan empati terhadap orang lain. Albers menjelaskan bahwa perilaku ini memiliki irisan dengan narsisme, terutama ketika seseorang mulai haus validasi dan perhatian.
"Akar dari perilaku ini sering kali justru berasal dari rasa tidak aman, kecemasan, atau rendah diri," jelasnya.
Karena itu, sebagian orang menggunakan persona 'tokoh utama' sebagai topeng untuk menutupi ketidakpercayaan dirinya.
Diperparah media sosial
Media sosial disebut menjadi lahan subur berkembangnya main character syndrome.
Kebiasaan mengunggah potongan terbaik kehidupan membuat banyak orang merasa harus terus tampil menarik, estetik, dan dramatis demi mendapat perhatian.
Tidak sedikit yang akhirnya hidup seperti sedang berada dalam pertunjukan tanpa henti.
Fenomena ini diperparah oleh budaya membandingkan diri dengan orang lain di internet. Seseorang bisa merasa harus punya hidup yang 'sinematik' agar dianggap menarik.
Akibatnya, validasi dari media sosial menjadi sangat penting dan perlahan membentuk persepsi diri yang tidak realistis.
Tanda-tanda main character syndrome
Melansir Healthline, ada beberapa perilaku yang sering muncul pada orang dengan main character syndrome, antara lain:
• Haus perhatian dan validasi.
• Berperilaku dramatis.
• Merasa paling penting dalam situasi tertentu.
• Sulit berempati.
• Meromantisasi masalah hidup.
• Mengabaikan dampak perilaku terhadap orang lain.
• Sering ingin "menciptakan versi baru diri sendiri".
• Bertindak berbeda demi citra tertentu.
Dalam beberapa kasus, seseorang juga bisa merasa orang lain hanyalah 'NPC' atau figuran dalam hidupnya. Istilah NPC sendiri berasal dari dunia gim untuk menyebut karakter yang tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Pandangan seperti ini dinilai berbahaya karena dapat membuat seseorang kehilangan rasa kemanusiaan terhadap orang lain.
Apakah selalu buruk?
Meski sering mendapat konotasi negatif, main character energy sebenarnya tidak selalu buruk.
Selama seseorang tetap sadar bahwa orang lain juga memiliki kehidupan, emosi, dan perjuangan masing-masing, energi ini bisa menjadi bentuk self-care dan dorongan untuk berkembang.
Merasa menjadi tokoh utama dalam hidup sendiri dapat membantu seseorang menetapkan batasan sehat, meningkatkan rasa percaya diri, hingga berani mengambil keputusan besar.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika perasaan tersebut berubah menjadi sikap egois dan membuat orang lain terasa tidak penting. Ingat, semua orang memang menjadi pemeran utama dalam hidupnya masing-masing. Namun, hidup bukan hanya tentang satu tokoh saja. Ada banyak cerita lain yang berjalan bersamaan, dan semuanya sama pentingnya.
(tis/tis)