Mengenal Fictosexuality, Saat Hati Terpaut Tokoh Fiksi
Pernah merasa lebih tertarik pada karakter fiksi dibanding orang di dunia nyata? Mungkin jatuh hati pada sosok pendiam penuh teka-teki di anime, tokoh serial yang terasa 'sempurna', atau karakter game yang selalu berhasil membuat jantung berdebar.
Fenomena ini ternyata jauh lebih umum daripada yang dibayangkan. Dari sekadar 'crush' ringan sampai keterikatan emosional yang mendalam, karakter fiksi memang punya daya tarik tersendiri bagi banyak orang.
Melansir The Teen Magz, belakangan, istilah fictosexuality atau fictophilia mulai ramai dibicarakan dalam dunia psikologi dan seksologi. Istilah ini merujuk pada perasaan cinta, ketertarikan, atau hasrat yang kuat dan berlangsung lama terhadap karakter fiksi.
Bagi sebagian orang, ketertarikan itu hanya sebatas hiburan dan fantasi. Namun bagi yang lain, hubungan emosional dengan karakter fiksi bisa terasa lebih nyata dibanding hubungan dengan manusia sesungguhnya.
Kenapa karakter fiksi terasa begitu menarik?
Menurut psikoterapis dan seksolog Chloe Scotney, ketertarikan terhadap karakter fiksi sebenarnya sangat normal. Sebab, karakter-karakter tersebut memang dirancang untuk membuat penonton atau pembaca merasakan sesuatu.
Mereka sering digambarkan memiliki sifat-sifat ideal: lucu, pintar, perhatian, pemberani, atau penuh misteri. Bahkan karakter 'jahat' pun kerap dibuat tampak menarik karena sisi gelap mereka diromantisasi dalam cerita.
"Karakter fiksi juga menjadi ruang aman bagi banyak orang untuk memahami seksualitas dan ketertarikan mereka," ujar Scotney mengutip Feeld.
Melalui film, buku, serial, atau gim, seseorang bisa mulai mengenali tipe kepribadian yang disukai, dinamika hubungan yang menarik perhatian, bahkan identitas seksualnya sendiri.
Tak heran jika banyak orang memiliki karakter fiksi favorit yang membekas sejak masa remaja. Bagi sebagian orang, itu bahkan menjadi bagian dari proses mengenal diri sendiri.
Fantasi yang terasa aman
Psikologi sebenarnya sudah lama membahas fenomena ini. Pada 1956, psikolog Donald Horton dan Richard Wohl memperkenalkan istilah parasocial relationship, yakni hubungan emosional satu arah yang dirasakan seseorang terhadap figur di layar.
Dalam hubungan seperti ini, seseorang bisa merasa dekat secara emosional meski hubungan tersebut tidak benar-benar nyata.
Karakter fiksi dianggap menjadi 'fantasi ideal' karena mereka tidak bisa menyakiti, menolak, atau memberikan sinyal membingungkan seperti hubungan di dunia nyata.
"Karakter fiksi tidak akan menghakimi tubuh kita, mempermalukan kita, atau membuat kita merasa tidak cukup baik," kata Scotney.
Karena itu, fantasi terhadap karakter fiksi sering terasa lebih aman dan nyaman, terutama bagi orang yang memiliki pengalaman buruk dalam hubungan nyata, trauma, rasa tidak percaya diri, atau kesulitan membangun kedekatan emosional.
Selain itu, dunia fiksi juga menawarkan pelarian dari realitas yang melelahkan. Di tengah hidup yang terasa monoton atau penuh tekanan, karakter fiksi bisa menjadi sumber kenyamanan emosional.
Kapan disebut fictosexuality?
Menyukai karakter fiksi bukan berarti seseorang otomatis fictosexual.
Namun, istilah fictosexuality biasanya digunakan ketika seseorang mengalami ketertarikan romantis atau seksual yang intens dan konsisten terhadap karakter fiksi, sementara ketertarikan terhadap orang nyata sangat minim atau bahkan tidak ada.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dikaitkan dengan spektrum aseksual.
Meski begitu, para ahli menekankan bahwa tidak ada yang 'salah' dari kondisi tersebut selama tidak menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.
Masalah baru muncul ketika keterikatan pada karakter fiksi mulai memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, pekerjaan, atau kemampuan menjalani kehidupan nyata.
Misalnya, seseorang menjadi terlalu terobsesi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau merasa frustrasi karena dunia nyata tidak bisa memenuhi ekspektasi seperti dunia fiksi.
Apakah bisa mengganggu hubungan nyata? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.
Bagi sebagian orang, ketertarikan pada karakter fiksi hanya menjadi bentuk hiburan atau fantasi pribadi tanpa mengganggu hubungan nyata. Namun pada sebagian lainnya, hubungan emosional dengan karakter fiksi bisa membuat hubungan di dunia nyata terasa kurang menarik.
Scotney menilai kondisi ini perlu dilihat secara lebih luas dan tidak bisa disederhanakan sebagai "aneh" atau "tidak normal".
Sebab, ketertarikan berlebih pada karakter fiksi bisa jadi merupakan dampak dari masalah lain yang lebih dalam, seperti kesepian, trauma, stres, rasa kehilangan, atau hubungan nyata yang sedang tidak berjalan baik.
Artinya, karakter fiksi bukan selalu penyebab utama, melainkan tempat pelarian emosional yang terasa aman.
(tis/tis)