57 Juta Orang Indonesia Hipertensi, yang Terkontrol Justru Sedikit

CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026 17:30 WIB
Ilustrasi pengecekan tekanan darah
Ilustrasi. Masih sedikit orang Indonesia yang mengontrol penyakit hipertensi yang dideritanya. (iStock/GlobalStock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 57 juta masyarakat Indonesia saat ini hidup dengan hipertensi. Namun ironisnya, jumlah penderita yang tekanan darahnya berhasil terkontrol bahkan belum mencapai 20 persen.

Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), Eka Harmeiwati mengatakan kondisi tersebut membuat angka komplikasi hipertensi di Indonesia masih sangat tinggi, mulai dari stroke, gagal jantung, hingga gagal ginjal.

"Di Indonesia itu menurut Kemenkes sekarang ada 57 juta penderita hipertensi. Bayangkan, 57 juta. Dan yang terkontrol itu cuma sedikit, tidak sampai 20 persen," kata Eka ditemui saat hadir dalam acara SF Series Launching yang digelar Omron, di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan hipertensi kerap tidak disadari karena gejalanya muncul perlahan. Banyak orang baru mengetahui dirinya memiliki tekanan darah tinggi setelah mengalami komplikasi serius.

"Hipertensi ini menimbulkan gejalanya lamban, bisa 10 tahun kemudian," ujarnya.

Menurut Eka, hipertensi bekerja dengan cara merusak dinding pembuluh darah sedikit demi sedikit dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat dianjurkan rutin mengukur tekanan darah sejak usia 18 tahun.

Eka menyebut tekanan darah tinggi bukan hanya berkaitan dengan stroke atau penyakit jantung seperti yang selama ini banyak diketahui masyarakat. Hipertensi juga dapat memicu gangguan penglihatan hingga demensia.

Selain itu, hipertensi disebut dapat menyebabkan gangguan irama jantung atau atrial fibrillation (AF). Kondisi ini membuat detak jantung menjadi tidak teratur dan meningkatkan risiko stroke.

"AF itu bisa meningkatkan risiko stroke sampai lima kali. Dan 20 sampai 30 persen pasien stroke iskemik itu karena AF," ujar Eka.

Ia mengatakan sekitar 60-80 persen kasus atrial fibrillation berkaitan dengan hipertensi. Bahkan, sekitar 10 persen pasien hipertensi dapat mengalami gangguan irama jantung tersebut.

Selain itu, Eka juga menyoroti tingginya faktor risiko hipertensi di Indonesia, terutama kebiasaan merokok dan konsumsi garam berlebih.

"Merokok itu di Asia Tenggara, Indonesia itu penyebab hipertensi paling tinggi," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat Asia, termasuk Indonesia, memiliki sensitivitas tinggi terhadap garam atau salt sensitive sehingga lebih rentan mengalami kenaikan tekanan darah akibat makanan asin.

Karena itu, Eka menekankan pentingnya pencegahan sejak dini melalui pola hidup sehat, olahraga rutin, menjaga berat badan, tidur cukup, serta pemeriksaan tekanan darah secara berkala.

"Kalau faktor risiko itu bisa diminimalkan, berarti kita bisa mencegah hipertensi, sekaligus mencegah AF dan stroke," jelasnya.

(nga/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]